RBN || Jakarta
Apple kembali merebut posisi sebagai perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia setelah menggeser Nvidia pada penutupan perdagangan Senin (27/7/2026). Ini menjadi kali pertama raksasa teknologi asal Amerika Serikat tersebut kembali ke posisi teratas sejak April 2025.
Berdasarkan laporan CNBC yang dikutip Selasa (28/7/2026), saham Apple naik sekitar 1 persen dan mendorong nilai kapitalisasi pasarnya mencapai US$ 4,95 triliun. Sebaliknya, Nvidia mengalami tekanan di pasar saham dengan penurunan sekitar 5 persen, sehingga nilai pasarnya menyusut menjadi sekitar US$ 4,77 triliun.
Sebelumnya, Nvidia menyandang gelar sebagai perusahaan paling bernilai di dunia sejak Juni 2025 setelah melampaui Microsoft. Perusahaan pembuat cip untuk kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) itu bahkan sempat mencatatkan kapitalisasi pasar sebesar US$ 5 triliun pada Oktober tahun lalu.
Penurunan saham Nvidia terjadi di tengah aksi jual yang melanda sektor semikonduktor. Sejumlah investor mulai mempertanyakan besarnya pengeluaran perusahaan-perusahaan teknologi untuk pengembangan AI, terutama terkait investasi infrastruktur dan pusat data.
Sementara itu, Apple justru mendapat sentimen positif dari pasar. Sepanjang tahun 2026, saham perusahaan pembuat iPhone tersebut tercatat meningkat sekitar 24 persen. Angka ini jauh melampaui kenaikan saham Nvidia yang hanya tumbuh sekitar 4 persen pada periode yang sama.
Analis menilai, penguatan Apple dipengaruhi strategi perusahaan yang lebih berhati-hati dalam mengelola investasi AI. Alih-alih menggelontorkan dana besar untuk membangun infrastruktur sendiri, Apple memilih menyewa kapasitas komputasi guna menekan biaya operasional dan belanja modal.
Perubahan strategi tersebut dinilai memberikan keyakinan kepada investor bahwa Apple mampu menjaga pertumbuhan bisnis tanpa harus mengambil risiko investasi yang terlalu besar di sektor AI.
Di sisi lain, perhatian pelaku pasar kini mulai bergeser. Jika sebelumnya saham produsen graphics processing unit (GPU) seperti Nvidia menjadi primadona, kini investor mulai melirik perusahaan lain yang berperan dalam rantai pasok AI.
Beberapa perusahaan yang tengah menjadi sorotan antara lain Micron Technology, SK Hynix, dan SanDisk yang dinilai memiliki potensi pertumbuhan seiring meningkatnya kebutuhan komponen pendukung teknologi AI.
Kembalinya Apple ke posisi puncak menunjukkan bahwa persaingan di industri teknologi global semakin ketat. Dengan perkembangan AI yang terus melaju, perebutan status perusahaan paling bernilai di dunia diperkirakan masih akan terus berubah dalam beberapa tahun mendatang.
Sumber: Berita Satu











