Menagih Kembali Kehormatan di Tengah Rapuhnya Kepercayaan

RBN || Jakarta

Ada masa ketika seseorang dipandang terhormat hanya karena jabatan yang disandangnya atau gelar yang tertulis di depan namanya. Namun kehormatan yang sesungguhnya tidak pernah lahir dari status. Ia tumbuh dari pilihan-pilihan kecil yang diambil seseorang ketika tidak ada yang menyaksikan, ketika tidak ada tepuk tangan yang menanti, dan ketika tidak ada keuntungan yang bisa dipetik dari kejujuran yang dipilihnya.

Psikolog perilaku Dan Ariely, yang bertahun-tahun meneliti mengapa manusia berbohong dan mencurangi orang lain, menemukan sesuatu yang menarik, kebanyakan orang tidak melakukan kecurangan sebesar-besarnya meski punya kesempatan, karena mereka tetap ingin memandang dirinya sebagai orang baik. Temuan ini menunjukkan bahwa dorongan untuk menjaga kehormatan diri sesungguhnya sudah tertanam dalam diri manusia, hanya saja dorongan itu mudah luntur ketika tekanan, godaan, atau kebiasaan buruk dibiarkan menumpuk tanpa disadari.

Kepercayaan orang lain terhadap seseorang tidak dibangun dalam satu momen dramatis. Ia terkumpul dari hal-hal yang tampak remeh, seperti menepati waktu janji temu, tidak melebih-lebihkan cerita demi terlihat hebat, atau mengembalikan barang pinjaman tanpa diminta. Sebaliknya, kepercayaan juga bisa runtuh bukan karena satu kebohongan besar, melainkan karena rentetan kebohongan kecil yang dianggap tidak penting namun terus berulang.

Kwame Anthony Appiah, dalam bukunya The Honor Code, mengingatkan bahwa perubahan moral besar dalam sejarah manusia seperti penghapusan perbudakan, penghentian duel maut demi harga diri, hingga penolakan terhadap pengikatan kaki di Tiongkok adalah tidak semata digerakkan oleh hukum, melainkan oleh pergeseran rasa malu dan kehormatan kolektif. Ketika masyarakat mulai memandang suatu tindakan sebagai memalukan, bukan lagi terhormat, perilaku itu perlahan ditinggalkan tanpa perlu paksaan.

Prinsip yang sama berlaku dalam skala pribadi. Seseorang yang terbiasa jujur bukan karena takut ketahuan, melainkan karena merasa tidak nyaman bila harus berbohong, sedang membangun apa yang oleh para psikolog disebut sebagai integritas internal, keselarasan antara nilai yang diyakini dan tindakan yang dijalankan sehari-hari. Keselarasan inilah yang membuat seseorang tetap tenang meski tidak ada yang mengawasi, karena standar yang dijaganya bukan berasal dari rasa takut pada orang lain, melainkan dari rasa hormat pada dirinya sendiri.

Namun menjaga kehormatan bukan berarti seseorang harus tampak sempurna sepanjang waktu. Justru sebaliknya, ujian kehormatan yang paling nyata muncul ketika seseorang melakukan kesalahan. Ada dua jalan yang bisa diambil dengan menutupi kesalahan demi menjaga citra, atau mengakuinya dengan jujur meski harus menanggung rasa malu sesaat. Jalan kedua terasa lebih berat, tetapi justru jalan itulah yang memulihkan kepercayaan lebih cepat, karena orang lain melihat keberanian, bukan kesempurnaan, sebagai bukti karakter yang bisa diandalkan.

Di ruang digital yang serba terekam hari ini, ujian itu menjadi semakin berat. Sebuah komentar ceroboh, unggahan yang terburu-buru, atau informasi yang disebarkan tanpa verifikasi dapat bertahan jauh lebih lama daripada niat baik yang melatarinya. Kebebasan berekspresi yang tidak diimbangi dengan kejujuran dan kesediaan bertanggung jawab justru dapat mengikis kepercayaan yang telah dibangun bertahun-tahun hanya dalam hitungan menit.

Menagih kembali kehormatan di tengah kepercayaan yang rapuh bukan berarti menuntut orang lain berubah lebih dulu. Justru dari diri sendirilah proses itu semestinya dimulai seperti berkata jujur meski tidak menguntungkan, menepati janji meski sudah dilupakan orang lain, dan memperlakukan sesama secara adil meski tidak ada yang menuntutnya. Masyarakat yang penuh kepercayaan tidak lahir dari aturan yang ketat semata, melainkan dari kumpulan pribadi yang memilih untuk tetap dapat dipercaya, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang sedang melihat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *