Wistful dan Seni Berdamai dengan Kerinduan yang Tak Terucapkan

RBN || Jakarta

Sebuah lagu lama yang tiba-tiba terputar di radio bisa membuat seseorang berhenti sejenak dari aktivitasnya. Bukan karena liriknya istimewa, melainkan karena lagu itu membawa ingatan pada suatu masa yang sudah lama berlalu. Kadang cukup aroma masakan tertentu, atau sekilas foto lama yang muncul di galeri ponsel, untuk membuat pikiran melayang kembali ke seseorang, tempat, atau momen yang tidak mungkin terulang persis seperti dulu.

Dalam bahasa Inggris, suasana hati semacam ini disebut wistful. Kata ini sulit dicari padanan tunggalnya dalam bahasa Indonesia, karena ia menggabungkan beberapa rasa sekaligus seperti ada kesedihan yang lembut, ada kerinduan yang dalam, ada secercah harapan, dan ada juga penerimaan terhadap sesuatu yang sudah jauh atau sulit dijangkau lagi.

Penting untuk membedakan wistful dari kesedihan yang menyayat dan melumpuhkan. Wistful justru menyimpan kehangatan di dalamnya, sebab kenangan yang dirindukan itu dulu pernah benar-benar memberi kebahagiaan dan makna. Seseorang tidak akan merasa wistful terhadap sesuatu yang tidak pernah berarti baginya. Justru karena pernah begitu berharga, jejaknya masih terasa hangat meski sudah tidak bisa digenggam lagi.

Perasaan ini bisa muncul kapan saja tanpa diundang. Melihat foto masa sekolah dulu, mengingat teman sepermainan yang kini sudah berpencar arah hidupnya masing-masing, atau membayangkan kembali suasana rumah masa kecil yang sekarang sudah banyak berubah. Kenangan liburan bersama keluarga, suasana kampung halaman, bahkan kesempatan yang dulu terlewatkan begitu saja, semuanya bisa memicu rasa yang sama.

Dalam keseharian, wistful sering tampak lewat hal-hal kecil yang mudah luput dari perhatian, seperti tatapan mata yang tiba-tiba menerawang jauh, senyum tipis yang muncul sendiri tanpa sebab jelas, atau nada suara yang perlahan melemah saat menceritakan sesuatu dari masa lalu. Ekspresi-ekspresi ini menunjukkan bahwa manusia mampu merasakan kehilangan dan kebahagiaan secara bersamaan, tersimpan rapi dalam satu ingatan yang sama.

Secara psikologis, wistful berkaitan erat dengan nostalgia, sebuah emosi yang sering digambarkan sebagai manis sekaligus pahit dalam waktu bersamaan. Berbagai penelitian memperlihatkan bahwa nostalgia bukan sekadar lamunan kosong, melainkan bisa memperkuat rasa keterhubungan dengan orang lain, membangun kesinambungan antara diri di masa lalu dan diri saat ini, menumbuhkan optimisme, serta membantu seseorang memaknai perjalanan hidupnya secara lebih utuh.

Profesor psikologi Constantine Sedikides dari University of Southampton memandang nostalgia sebagai semacam sumber daya psikologis yang bisa diandalkan manusia untuk tetap merasa terhubung dengan sesamanya. Menurutnya, mengenang masa lalu tidak selalu berarti terjebak di dalamnya. Nostalgia justru bisa menjadi jembatan yang menyatukan pengalaman yang pernah dilalui dengan identitas diri serta arah tujuan hidup pada masa sekarang.

Meski begitu, kerinduan tetap perlu dikelola dengan bijak agar tidak berubah menjadi kebiasaan mengidealkan masa lalu secara berlebihan. Ada orang yang terus-menerus membandingkan kehidupannya sekarang dengan kenangan indah yang sudah lewat, sampai lupa bahwa perbandingan semacam itu justru bisa menghambat dirinya untuk menerima perubahan dan menyambut kesempatan baru yang ada di depan mata. Wistful yang sehat adalah yang mampu menghangatkan hati tanpa membuat seseorang menutup diri dari kehidupan yang sedang berjalan.

Ada banyak cara sederhana untuk menyalurkan perasaan wistful agar tidak mengendap begitu saja. Menuliskannya dalam catatan harian bisa membantu seseorang memahami perasaannya sendiri dengan lebih jernih. Mendengarkan kembali lagu-lagu lama, menghubungi sahabat yang sudah lama tidak bertegur sapa, atau sekadar melukis dan menulis dari pengalaman pribadi juga bisa mengubah kerinduan menjadi sesuatu yang lebih produktif dan bermakna, bukan sekadar rasa yang mengganjal di dada.

Tidak semua kehilangan harus buru-buru dilupakan, dan tidak setiap kerinduan harus segera dituntaskan atau dicari jalan keluarnya. Sebagian kenangan cukup diterima apa adanya, sebagai bukti bahwa seseorang pernah memiliki hubungan yang berarti, kesempatan yang berharga, dan kebahagiaan yang nyata pernah dirasakan, meskipun sekarang sudah menjadi bagian dari masa lalu.

Wistful mengajarkan cara mengenang tanpa terjebak di dalamnya, merindukan tanpa harus memaksakan segalanya kembali seperti semula, dan menerima perubahan tanpa perlu menghapus jejak masa lalu begitu saja. Kenangan yang paling indah sekalipun semestinya tidak menjadi alasan untuk berhenti melangkah, melainkan bekal berharga yang menuntun seseorang menjalani hidup dengan lebih matang, hangat, dan bijaksana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *