Ikuti Wirasena Youth Camp 2026, Kadek Ajak Pemuda Perkuat Kolaborasi untuk Masa Depan Indonesia
RBN || Jakarta
Menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98, Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI) menyelenggarakan Wirasena Youth Camp 2026 sebagai ruang penguatan karakter, kepemimpinan, dan kolaborasi pemuda dari berbagai daerah di Indonesia.
Kegiatan yang berlangsung pada 21–31 Oktober 2026 di Jakarta tersebut mempertemukan generasi muda dari beragam latar belakang untuk mengembangkan kapasitas diri sekaligus merancang kontribusi nyata bagi masyarakat.
Salah satu peserta yang mewakili organisasi kepemudaan Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI), I Kadek Ria Febri Yana, yang akrab disapa Bli Bink selama kegiatan, mengapresiasi penyelenggaraan Wirasena Youth Camp sebagai ruang pembelajaran yang tidak hanya memperkuat wawasan kepemimpinan, tetapi juga mengajak peserta memahami tanggung jawab sosial secara lebih mendalam.
Dalam kegiatan tersebut, Kadek juga mendapat kepercayaan dari sesama peserta untuk mengemban amanah sebagai ketua kelas. Menurutnya, kepercayaan tersebut menjadi kesempatan untuk belajar membangun komunikasi, menjaga kebersamaan, dan mendorong partisipasi aktif di tengah keberagaman karakter peserta.
“Menjadi ketua kelas memberikan saya pengalaman bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang mengarahkan, tetapi juga mendengarkan, memahami kebutuhan bersama, dan memastikan setiap orang memiliki ruang untuk berkontribusi,” ungkap Kadek.
Setelah mengikuti 15 sesi pembelajaran pada 22–24 Oktober 2026, Kadek mengaku mendapatkan perspektif baru mengenai pentingnya ketelitian dalam merancang program pengabdian masyarakat, khususnya melalui pendekatan identifikasi masalah, mitigasi risiko, dan evaluasi dampak.
“Hal yang paling berkesan bagi saya adalah bagaimana sebuah program besar dibedah hingga pada aspek-aspek yang paling kecil. Kami diajak memahami bahwa keberhasilan program bukan hanya ditentukan oleh besarnya gagasan, tetapi juga ketelitian dalam mengidentifikasi risiko, merencanakan pencegahan, hingga mengantisipasi konsekuensi yang mungkin muncul setelah program dilaksanakan,” jelasnya.
Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi pembelajaran penting bagi pemuda, terutama mereka yang aktif dalam organisasi dan gerakan sosial. Setiap program yang dilaksanakan harus memiliki orientasi pada kebutuhan masyarakat serta keberlanjutan manfaat yang dihasilkan.
“Sering kali kita terlalu berfokus pada bagaimana sebuah kegiatan dapat terlaksana, tetapi kurang memperhatikan apa yang terjadi setelahnya. Melalui Wirasena, saya semakin memahami bahwa tanggung jawab seorang pemimpin tidak berhenti ketika program selesai, melainkan juga mencakup dampak dan keberlanjutan dari keputusan yang telah diambil,” lanjutnya.
Kadek menilai pembelajaran tersebut relevan dengan peran organisasi kepemudaan dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan nasional, mulai dari pendidikan, ketimpangan sosial, pemberdayaan masyarakat, hingga persoalan lingkungan hidup.
Ia juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia sebagai fondasi pembangunan bangsa.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia pada 2025 mencapai 75,90. Capaian tersebut menunjukkan perkembangan positif dalam dimensi kesehatan, pendidikan, dan standar hidup layak. Namun, kesenjangan pembangunan manusia antarwilayah masih menjadi tantangan yang memerlukan perhatian bersama.
“Indeks Pembangunan Manusia Indonesia terus menunjukkan perkembangan, tetapi kita juga harus melihat bahwa kesempatan memperoleh pendidikan, layanan kesehatan, dan kehidupan yang layak belum sepenuhnya merata. Dalam situasi ini, pemuda harus hadir bukan hanya sebagai penerima manfaat pembangunan, tetapi juga sebagai bagian dari kekuatan yang mendorong pemerataan dan kemajuan masyarakat,” tegasnya.
Lebih lanjut, Kadek berharap Wirasena Youth Camp dapat menjadi titik awal terbentuknya jejaring kolaborasi pemuda lintas daerah, budaya, dan organisasi yang tidak berhenti setelah kegiatan berakhir.
Menurutnya, keberagaman latar belakang peserta merupakan kekuatan strategis untuk mempertemukan berbagai pengalaman, pengetahuan, dan gagasan dalam menjawab persoalan bangsa.
“Kita datang dari daerah, organisasi, dan latar belakang yang berbeda, tetapi memiliki tanggung jawab yang sama terhadap masa depan Indonesia. Saya berharap seluruh peserta Wirasena dapat terus membangun sinergi, saling mendukung, dan menghadirkan kontribusi nyata di daerah masing-masing. Jangan sampai kebersamaan yang terbangun hanya menjadi kenangan selama kegiatan berlangsung,” ujarnya.
Momentum Hari Sumpah Pemuda ke-98 yang diperingati pada 28 Oktober 2026, menurut Kadek, juga harus menjadi refleksi mengenai relevansi persatuan pemuda dalam menghadapi tantangan Indonesia saat ini.
Ia menilai semangat Sumpah Pemuda tidak cukup dimaknai melalui peringatan seremonial, melainkan harus diwujudkan melalui keberanian mengambil tanggung jawab dan membangun kerja sama lintas perbedaan.
“Jika pada 1928 para pemuda mampu menyatukan semangat perjuangan di tengah keberagaman, maka 98 tahun kemudian tugas generasi muda adalah menjaga persatuan tersebut melalui kerja nyata. Indonesia membutuhkan pemuda yang tidak hanya kritis terhadap persoalan bangsa, tetapi juga memiliki kapasitas, kepedulian, dan keberanian untuk terlibat dalam penyelesaiannya,” kata Kadek.
Ia berharap nilai-nilai patriotik, gigih, dan berempati yang menjadi landasan Wirasena Youth Camp dapat terus diterapkan oleh seluruh peserta dalam kehidupan bermasyarakat.
“Harapan saya, Wirasena tidak berhenti sebagai ruang pertemuan pemuda dari seluruh Indonesia, tetapi tumbuh menjadi jejaring pengabdian yang berkelanjutan. Sebab, masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh apa yang kita cita-citakan hari ini, tetapi juga oleh apa yang kita kerjakan bersama untuk mewujudkannya,” pungkasnya.
Reportase: Mahmudah


