Gunung Karangetang Erupsi, Material Pijar Terlontar hingga 300 Meter

RBN || Manado

Gunung Karangetang di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, mengalami erupsi pada Minggu (25/10/2026) pukul 19.23 Wita. Erupsi tersebut disertai lontaran material pijar hingga 300 meter dari puncak serta guguran lava yang mengalir ke sejumlah sektor di sekitar gunung.

Petugas Pos Pengamatan Gunung Api Karangetang, Muhamad Fadlan Rasyidin Bina, menjelaskan bahwa tinggi kolom abu saat kejadian tidak teramati. Namun, aktivitas erupsi terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum mencapai 50 milimeter dan durasi sementara sekitar 1 menit 43 detik.

“Erupsi masih berlangsung saat laporan sedang dibuat,” ujar Muhamad Fadlan.

Pada fase eksplosif, material pijar terlontar sekitar 200–300 meter ke arah barat laut dari puncak Kawah Utara. Kolom asap juga teramati mencapai ketinggian sekitar 1.100 meter dan bergerak condong ke arah barat hingga barat laut.

Aktivitas vulkanik tersebut kemudian diikuti fase efusif berupa guguran lava pijar yang mengalir ke beberapa sektor di sekitar Gunung Karangetang. Di sektor selatan, guguran lava tercatat mencapai jarak sekitar 200–700 meter dari pusat aktivitas.

Sementara itu, di sektor barat dan barat daya, aliran lava mengarah ke sejumlah sungai, yakni Kali Hiung, Kali Sumpihi, Kali Kinali, Kali Pangi, dan Kali Kiawang. Jarak aliran lava di kawasan tersebut diperkirakan mencapai 700–1.000 meter.

Guguran lava juga terpantau di sektor barat laut dengan arah aliran menuju Kali Batuare, Kali Batukole, dan Kali Malrbuhe. Jarak aliran di sektor ini diperkirakan sekitar 500–700 meter.

Di tengah aktivitas erupsi tersebut, Gunung Karangetang masih berstatus Level II atau Waspada. Masyarakat, pendaki, serta wisatawan diminta menjauhi kawasan yang masuk dalam zona prakiraan bahaya dan tidak melakukan aktivitas di sekitar kawah.

Zona bahaya mencakup radius 1,5 kilometer dari puncak Kawah Dua atau Kawah Utara serta Kawah Utama di bagian selatan. Selain itu, terdapat perluasan zona bahaya sektoral ke arah selatan dan barat daya sejauh 2,5 kilometer.

Muhamad Fadlan mengingatkan bahwa guguran lava dan awan panas guguran berpotensi terjadi sewaktu-waktu. Tumpukan material lava dari aktivitas sebelumnya dinilai belum stabil sehingga masih berisiko runtuh, terutama di sektor selatan, tenggara, barat, dan barat daya.

“Mewaspadai guguran lava dan awan panas guguran yang dapat terjadi sewaktu-waktu dari penumpukan material lava sebelumnya karena kondisinya belum stabil dan mudah runtuh,” tuturnya.

Selain ancaman langsung dari aktivitas vulkanik, masyarakat yang tinggal di sepanjang bantaran sungai yang berhulu dari puncak Gunung Karangetang juga diminta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi.

Hujan yang turun di kawasan tersebut dapat meningkatkan risiko lahar hujan dan banjir bandang yang berpotensi mengalir mengikuti alur sungai hingga mencapai wilayah pesisir. Karena itu, warga di sekitar aliran sungai diminta memperhatikan kondisi lingkungan serta mengikuti arahan petugas.

“Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak Gunung Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai,” jelas Muhamad Fadlan.

Masyarakat di sekitar Gunung Karangetang diimbau untuk mematuhi seluruh rekomendasi keselamatan, menghindari zona berbahaya, serta mengikuti perkembangan informasi resmi mengenai aktivitas gunung api. Langkah tersebut penting untuk mengurangi risiko terhadap keselamatan warga di tengah aktivitas vulkanik yang masih berlangsung.

Sumber: Kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *