BPBD Bali Catat 132 Kebakaran dan Ratusan Hektare Karhutla Selama Kemarau 2026

RBN || Denpasar

Musim kemarau 2026 mulai meningkatkan risiko kebakaran di Bali. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali mencatat 132 kejadian kebakaran gedung dan permukiman di seluruh kabupaten/kota selama 11 April hingga 1 September 2026.

Kepala Pelaksana BPBD Bali I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya mengatakan kondisi cuaca pada musim kemarau tahun ini membuat sejumlah wilayah lebih rentan mengalami kebakaran.

“Berdasarkan perkembangan cuaca dan informasi dari BMKG, musim kemarau 2026 diperkirakan berlangsung lebih panjang, lebih kering, dan dengan suhu yang relatif lebih tinggi dibandingkan kondisi normal, kondisi tersebut meningkatkan potensi kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta kebakaran pada kawasan permukiman maupun lokasi pengelolaan sampah,” kata Gede Teja di Denpasar, Rabu (2/9/2026).

Dari 132 kejadian kebakaran bangunan dan permukiman, Kabupaten Buleleng menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni 33 kejadian. Disusul Kota Denpasar sebanyak 31 kejadian.

Berikutnya, BPBD mencatat 15 kebakaran di Badung, 14 kejadian di Karangasem, 10 kejadian di Jembrana, sembilan di Bangli, delapan di Klungkung, tujuh di Gianyar, dan lima kejadian di Tabanan.

Ancaman kebakaran juga meluas ke kawasan hutan dan lahan. Di Buleleng, misalnya, karhutla tercatat membakar area seluas 159,07 hektare. Luasan tersebut mencakup 153,42 hektare kawasan Hutan Lindung dan Hutan Produksi Terbatas (HPT), serta 5,65 hektare lahan milik pribadi.

Di Klungkung, kebakaran hutan dan lahan terjadi di Nusa Penida dengan luas sekitar 15 hektare. Sementara kawasan Gunaksa dilaporkan mengalami kebakaran lahan kosong seluas dua hektare.

Karangasem juga menghadapi kebakaran lahan di Kecamatan Kubu seluas enam hektare. Di Kecamatan Abang, lahan kosong seluas dua hektare yang mencakup Desa Sukadana dan Desa Dukuh turut terbakar.

Sementara itu, kebakaran lahan kosong di Jembrana mencapai 8,05 hektare. Di Kecamatan Kintamani, Bangli, kebakaran hutan tercatat menghanguskan area seluas 3,83 hektare.

Potensi kebakaran selama kemarau juga menyasar sejumlah tempat pengelolaan sampah. BPBD Bali mencatat kebakaran di TPST 3R Culik, Desa Labasari, Kecamatan Abang, Karangasem, dengan area terdampak sekitar 10 are.

Kebakaran juga terjadi di TPST 3R Banjar Dinas Antapura, Desa Tejakula, Buleleng. Sementara TPA Suwung di Denpasar Selatan sempat terbakar dengan area terdampak sekitar dua are.

Selain kebakaran, kondisi kemarau juga memicu kekeringan di empat kabupaten, yakni Buleleng, Jembrana, Karangasem, dan Klungkung.

Sebanyak 529 kepala keluarga (KK) terdampak kekeringan yang tersebar di 15 desa atau kelurahan.

Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah mengingat musim kemarau diperkirakan berlangsung lebih panjang dan kering. Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, terutama di kawasan permukiman, lahan terbuka, hutan, serta lokasi pengelolaan sampah.

Sumber: Liputan6

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *