RBN || Klaten
Sebelum subuh ibu dua anak ini sudah sibuk di dapurnya. Ia meracik jamu yang akan dijual esok hari.
Ibu Sri sapaan akrabnya, salah satu penerima manfaat yang berani berdaya tidak bergantung lagi dengan bansos.
Dibalik sosok nya yang sangat ceria ini, Bu Sri pernah menghadapi hidup yang sangat sulit.
“Pernah saya ada dimasa ketika suami saya merantau ke Madura saya dirumah dengan anak pertama saya waktu itu umur 5 tahun tidak bisa membeli beras untuk makan” ungkapnya
Ditengah keputusasaanya Ia kembali bercerita jika hidupnya diselamatkan oleh pemerintah pada sekitar tahun 2013 ia mendapatkan bantuan Program keluarga Harapan dan BPNT.
“Setelah mendapat bantuan, hidup kami mulai membaik saya bersama keluarga merasa diselamatkan oleh pemerintah”
Hari ini Bu Sri sudah tidak lagi bergantung pada bantuan pemerintah, anaknya yang pertama sudah bekerja, suaminya sebagai blanthik (penjual titipan) kambing dan ia juga penjual jamu keliling. Ini lebih dari cukup untuk ekonomi keluarga mereka.
Sebagai penjual jamu sikap Bu Sri yang ramah membuat pelanggan betah. Beberapa pelanggan dari berbagai usia tampak mengantre untuk membeli jamunya.
Di tengah zaman yang menuntut segalanya serba cepat dan mendorong kita untuk selalu terburu-buru. Bu Sri mengajarkan untuk percaya pada proses yang tak singkat, ia terbiasa bekerja untuk merawat kehidupan dan menikmati hidup.
Jadi berdaya bukan hanya sekedar kata-kata saja, ia hidup dan bersemayam di diri Sri Giatmi. Disetiap racikan jamunya, di setiap tawanya dan keikhlasan hatinya bekerja untuk keluarga.
________________________
sumber: Kemensos RI











