Bagaimana Patung Yunani Kuno Berhasil Menciptakan Obsesi ‘Six Pack’?

  • Share
foto: wikipedia
RBN || Jakarta

Obsesi budaya terhadap perut six-pack tidak menunjukkan tanda-tanda mereda. Dan jika penelitian tentang citra tubuh pria dapat dipercaya, kemungkinan besar obsesi ini hanya akan berkembang, berkat media sosial.

Saat ini, ada seluruh industri yang berpusat pada mendapatkan – dan mempertahankan – perut six-pack. Perut six-pack menjadi subjek buku dan unggahan media sosial, sementara setiap bintang film laga tampaknya memilikinya. Tekanan juga meningkat pada wanita untuk memiliki perut six-pack karena ideal tubuh untuk wanita atletis telah berkembang.

Semua ini menimbulkan pertanyaan, kapan kegilaan akan six-pack dimulai?

Mungkin tampak seperti fenomena yang relatif baru, produk sampingan dari booming budaya kebugaran pada tahun 1970-an dan 1980-an. Saat itu, Arnold Schwarzenegger dan Rambo berkuasa. Majalah yang memamerkan otot pria serta aerobik berkembang pesat.

Sejarah membuktikan sebaliknya. Faktanya, ketertarikan budaya Barat terhadap perut berotot dapat ditelusuri hingga akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19. Di masa itu, citra tubuh ideal pria di Barat mulai bergeser. Namun, apa yang mendorong pergeseran citra ideal tersebut? Budaya Yunani kuno mungkin bisa menjadi salah satu pendorongnya.

Orang Yunani menginspirasi rasa iri akan citra tubuh yang ideal

Saat meneliti budaya kesehatan dan tubuh Irlandia, Conor Heffernan menjadi tertarik dengan perubahan ideal tubuh pria.

Sejarawan Prancis George Vigarello telah menulis tentang bagaimana sosok pria ideal dan siluet pria bergeser dalam masyarakat Barat. Budaya Inggris dan Amerika pada abad ke-17 hingga ke-19 menghargai tubuh pria yang besar atau gemuk. Alasannya relatif sederhana: Pria kaya mampu makan lebih banyak. Serta kerangka tubuh yang lebih besar menunjukkan kesuksesan.

Baru pada awal abad ke-19, fisik yang ramping dan berotot mulai sangat didambakan. Dalam beberapa dekade, tubuh gemuk mulai dianggap tidak sedap dipandang. Sementara bentuk tubuh yang ramping, atletis, atau berotot dikaitkan dengan kesuksesan, disiplin diri, dan bahkan kesalehan.

“Sebagian dari transformasi ini berakar dari minat baru Eropa terhadap Yunani kuno,” ungkap Heffernan.

Kinesiolog Jan Todd dan lainnya telah menulis tentang dampak citra dan patung Yunani kuno terhadap citra tubuh. Sama seperti media sosial yang telah mendistorsi citra tubuh, artefak seperti Elgin Marbles membantu memicu minat pada otot pria. Elgin Marbles adalah sekelompok patung yang dibawa ke Inggris yang menampilkan figur pria dengan fisik ramping dan berotot.

Minat pada otot ini semakin mendalam seiring berjalannya abad. Pada tahun 1851, sebuah perayaan komersial dan budaya besar yang dikenal sebagai “Great Exhibition” diadakan di London. Di luar aula pameran terdapat patung-patung Yunani Kuno.

Menulis pada tahun 1858 tentang dampak patung-patung tersebut, pendidik fisik Inggris George Forrest mengeluh. Forrest menyebutkan bahwa orang Inggris tampaknya tidak memiliki rangkaian otot indah yang melingkari seluruh pinggang. Sedangkan otot-otot itu terlihat begitu menonjol pada patung-patung kuno.

Proyeksi kekuatan militer

Patung dan lukisan telah berperan penting jauh sebelum fotografi memengaruhi standar kebugaran pada akhir tahun 1800-an dan awal 1900-an. Namun, sama pentingnya adalah pertumbuhan senam militer pada awal abad tersebut. Pada saat yang sama ketika tipe tubuh ideal untuk pria berubah, demikian pula masyarakat Eropa.

Sebagai akibat dari Perang Napoleon pada awal abad ke-19, beberapa program senam diciptakan. Tujuannya adalah untuk memperkuat dan meningkatkan kebugaran tubuh para pemuda di seluruh Eropa. Tentara Prancis terkenal karena kebugaran fisik mereka. “Baik dalam hal kemampuan mereka untuk berbaris selama berhari-hari maupun bergerak cepat dalam pertempuran,” tambah Heffener.

Banyak negara Eropa menderita kekalahan memalukan di tangan pasukan Napoleon. Setelah itu, mereka mulai lebih serius memperhatikan kesehatan pasukan mereka.

Pesenam Friedrich Ludwig Jahn, melalui sistem latihan kalistenik Turner-nya, ditugaskan untuk memperkuat kekuatan militer Prusia.

Instruktur senam Spanyol Don Francisco Amorós y Ondeano ditugaskan untuk membangun kembali fisik dan stamina pasukan Prancis. Sementara di Inggris seorang instruktur kebugaran Swiss bernama P.H. Clias melatih militer dan angkatan laut selama tahun 1830-an. Untuk mengakomodasi meningkatnya minat Eropa terhadap kebugaran, gimnasium yang semakin besar mulai dibangun di seluruh benua.

Sandow sendiri menjual buku, peralatan olahraga, suplemen nutrisi, mainan anak-anak, korset, cerutu, dan cokelat. Sandow pernah dipuji sebagai “spesimen dengan bentuk tubuh paling sempurna di dunia”.

Ia menginspirasi banyak pria untuk mengurangi “daging” berlebih untuk memamerkan otot perut mereka. Daging berlebih itu merupakan istilah yang digunakan untuk lemak tubuh. Dan otot perut selalu menjadi istilah yang digunakan pada saat itu.

Baru pada akhir tahun 1980-an, mendapatkan “six pack” tidak hanya merujuk pada kaleng bir dan mulai berfungsi sebagai pengganti otot perut yang terlihat. Pencarian melalui Google menunjukkan bahwa dari pertengahan hingga akhir tahun 1990-an popularitas istilah tersebut tumbuh secara eksponensial.

Six-pack abs” dengan cepat menjadi istilah umum berkat para pemasar yang cerdik yang bertekad untuk menjual berbagai perangkat “menjadi bugar dengan cepat”.

Hanya sedikit yang mampu bertahan melewati ujian waktu. Namun, kerinduan akan perut six-pack yang didambakan tetap ada. Seperti yang dibuktikan oleh lebih dari 12 juta unggahan Instagram dengan tagar #sixpack.

 

sumber : National geographic Indonesia

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *