RBN || Washington DC
Ketegangan antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran kembali meningkat. AS bersama Israel dilaporkan tengah mematangkan opsi operasi militer berskala besar yang menyasar sejumlah fasilitas energi di Iran.
Laporan CBS News pada Jumat (31/7/2026) menyebut operasi tersebut berpotensi dilakukan pada akhir pekan. Sejumlah pembangkit listrik dan fasilitas penyulingan minyak disebut masuk dalam daftar sasaran yang tengah dipertimbangkan.
Salah satu opsi yang dikabarkan dibahas adalah serangan terhadap infrastruktur yang dapat mengganggu pasokan listrik ke Teheran. Rencana tersebut disebut telah menjadi bahan pembahasan sejumlah pejabat AS dan Israel.
Para pejabat juga disebut mempertimbangkan agar operasi dapat diselesaikan sebelum pasar keuangan global kembali beraktivitas pada Senin (3/8/2026). Pertimbangan tersebut berkaitan dengan potensi dampak serangan terhadap pasar dan perekonomian global. Namun, hingga kini belum ada jadwal resmi mengenai pelaksanaan operasi tersebut.
Israel disebut telah menerima pengarahan terkait opsi serangan dan terus melakukan koordinasi dengan Washington. Meski demikian, Presiden AS Donald Trump dilaporkan belum memberikan persetujuan final.
Rencana tersebut disebut turut dibahas dalam pertemuan kabinet di Camp David. Mengutip laporan Wall Street Journal, pertemuan itu menghasilkan kesepahaman mengenai kemungkinan dilakukannya operasi militer baru terhadap Iran.
Trump dalam pertemuan dengan para pejabat pemerintahnya menegaskan sikap keras terhadap Teheran.
“AS akan menyerang Iran dengan sangat keras, sampai pada suatu titik di mana mereka akan berkata, ‘kami tak dapat menahannya lagi’,” ujar Trump.
Sikap tegas juga disampaikan Gedung Putih dan Pentagon. Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan AS akan memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir.
Sementara itu, Juru Bicara Pentagon Sean Parnell menyebut militer AS telah berada dalam kondisi siap menjalankan perintah. Namun, ia tidak mengungkap sasaran operasi sebelum keputusan resmi dari Presiden Trump dikeluarkan.
Hingga saat ini, belum ada kepastian apakah rencana serangan tersebut akan benar-benar dilaksanakan. Keputusan akhir tetap berada di tangan Presiden Trump, sementara perkembangan situasi masih terus dipantau oleh kedua negara.
Sumber: Inilah.com











