Meksiko Larang Penggunaan Ponsel Selama Jam Sekolah
RBN || Meksiko
Pemerintah Meksiko resmi membatasi penggunaan telepon seluler di sekolah mulai Selasa (3/11/2026). Kebijakan ini bertujuan mengurangi ketergantungan anak terhadap perangkat digital sekaligus meningkatkan konsentrasi belajar.
Aturan yang digagas Presiden Claudia Sheinbaum tersebut berlaku bagi siswa sekolah dasar dan menengah pertama. Penggunaan ponsel dibatasi selama kegiatan belajar maupun waktu istirahat di lingkungan sekolah.
Meski demikian, pemerintah tetap memberikan pengecualian untuk kegiatan pembelajaran yang diarahkan guru. Ponsel juga diperbolehkan dalam keadaan darurat serta untuk kebutuhan kesehatan dan penyandang disabilitas.
Kebijakan tersebut mendapat dukungan sejumlah ahli yang menilai penggunaan perangkat elektronik secara berlebihan dapat mengganggu perkembangan anak. Pembatasan diharapkan membantu mengurangi masalah perhatian, stres, dan kecemasan di kalangan pelajar.
Namun, penerapannya memunculkan kekhawatiran sebagian orang tua, terutama di wilayah yang menghadapi ancaman kekerasan. Mereka menilai ponsel tetap dibutuhkan agar anak dapat segera menghubungi keluarga ketika terjadi situasi berbahaya.
Kekhawatiran itu berkaitan dengan kondisi keamanan yang masih menjadi persoalan serius di sejumlah wilayah Meksiko. Organisasi Jaringan Hak Anak di Meksiko (REDIM) melaporkan tingginya risiko kejahatan yang melibatkan kelompok kriminal terorganisasi.
Menurut REDIM, satu dari setiap 10 anak dan remaja berusia hingga 17 tahun menjadi korban kejahatan terkait kelompok tersebut pada semester pertama 2026. Kondisi ini memperkuat alasan sebagian keluarga untuk tetap mempertahankan akses komunikasi langsung dengan anak.
Selain pembatasan ponsel, pemerintah tengah menyiapkan regulasi untuk memperkuat perlindungan masyarakat di ruang digital. Platform digital nantinya diwajibkan menghapus konten ilegal, termasuk ujaran kebencian, kekerasan seksual, pelecehan, dan perundungan siber.
Pemerintah berharap kebijakan tersebut menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih sehat, aman, dan mendukung interaksi sosial antarsiswa. Meski demikian, penerapannya perlu memperhatikan kebutuhan komunikasi darurat agar keselamatan pelajar tetap terjamin.
Sumber: Liputan6


