Menerima Bukan Berarti Menyerah

RBN || Jakarta

Seseorang yang baru saja kehilangan pekerjaan sering mendapat nasihat untuk tetap semangat dan segera bangkit. Namun ada langkah yang sering terlewat sebelum semangat itu benar-benar bisa tumbuh, yaitu mengakui dengan jujur bahwa kehilangan itu memang menyakitkan. Melompat langsung ke semangat tanpa melewati pengakuan ini sering membuat luka tersebut tidak pernah benar-benar sembuh, hanya tertutup sementara oleh kesibukan baru.

Psikolog klinis Tara Brach, yang mengembangkan pendekatan yang ia sebut sebagai penerimaan radikal, menjelaskan bahwa penerimaan bukanlah tindakan pasif yang berarti berhenti berjuang. Penerimaan adalah keberanian untuk mengakui kenyataan apa adanya, termasuk bagian yang menyakitkan, tanpa menyangkalnya atau berpura-pura baik-baik saja. Menurutnya, justru penyangkalan terhadap kenyataanlah yang paling banyak menguras energi seseorang, sebab energi itu habis untuk melawan sesuatu yang sebenarnya sudah terjadi.

Kebingungan antara menerima dan menyerah sering muncul karena keduanya sama-sama terlihat seperti berhenti melawan. Namun ada perbedaan mendasar di antara keduanya. Menyerah berarti berhenti berusaha sama sekali, kehilangan harapan, dan membiarkan keadaan terus berlangsung tanpa ada niat untuk berubah. Menerima berarti berhenti melawan kenyataan yang sudah terjadi, sambil tetap membuka ruang untuk melangkah maju dengan cara yang baru.

Seseorang yang menerima bahwa hubungannya telah berakhir tidak berarti ia berhenti percaya pada cinta. Ia hanya berhenti memaksakan sesuatu yang sudah tidak dapat dipertahankan, sehingga energi yang tersisa dapat dialihkan untuk memulihkan diri dan membuka ruang bagi kemungkinan baru. Seseorang yang menerima bahwa tubuhnya mengalami keterbatasan tertentu tidak berarti ia berhenti menjaga kesehatan, ia hanya berhenti menyalahkan diri atas sesuatu yang berada di luar kendalinya.

Penerimaan sering kali justru menjadi langkah pertama menuju perubahan yang nyata. Selama seseorang masih sibuk menyangkal atau berharap kenyataan akan berubah dengan sendirinya, energi untuk bertindak secara konkret sulit terkumpul. Begitu kenyataan diterima sepenuhnya, ruang untuk berpikir jernih tentang langkah selanjutnya menjadi jauh lebih luas.

Banyak orang menghindari penerimaan karena mengira hal itu berarti membenarkan sesuatu yang menyakitkan. Padahal menerima kenyataan bahwa seseorang pernah menyakiti kita tidak berarti membenarkan tindakannya. Menerima bahwa suatu kegagalan telah terjadi tidak berarti menyetujui bahwa kegagalan itu baik. Penerimaan hanya berarti berhenti menghabiskan energi untuk berharap masa lalu bisa diubah, lalu mengalihkan energi tersebut untuk menentukan langkah berikutnya.

Proses menerima biasanya tidak terjadi dalam sekali waktu. Ia lebih sering datang bertahap, kadang maju kadang mundur, terutama ketika menyangkut kehilangan yang besar. Wajar jika seseorang merasa sudah bisa menerima suatu keadaan, lalu suatu hari perasaan sedih itu muncul kembali. Hal ini bukan tanda kegagalan dalam proses menerima, melainkan bagian alami dari bagaimana manusia memproses kehilangan.

Membedakan antara menerima dan menyerah dapat dilihat dari pertanyaan sederhana, apakah seseorang masih memiliki keinginan untuk memperbaiki hal-hal yang masih bisa diperbaiki, meski ia telah berhenti melawan hal-hal yang memang sudah tidak dapat diubah. Seseorang yang menerima tetap memiliki harapan, hanya saja harapan itu diarahkan pada hal yang realistis, bukan pada keinginan untuk memutar kembali waktu.

Penerimaan yang sehat memberi ruang bagi ketenangan tanpa menghilangkan dorongan untuk berkembang. Seseorang yang telah menerima kenyataan dengan jujur biasanya justru lebih siap melangkah maju, sebab ia tidak lagi terjebak dalam pertarungan melawan sesuatu yang tidak dapat diubah, dan dapat mencurahkan seluruh tenaganya untuk hal-hal yang masih berada dalam kendalinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *