Bursa Asia Melemah di Tengah Konflik AS-Iran
RBN || Jakarta
Bursa saham Asia bergerak melemah pada perdagangan Senin (31/8/2026). Tekanan pasar dipicu meningkatnya kembali ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang mendorong harga minyak, sementara investor semakin memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga AS.
Mengutip Channel News Asia, harga minyak mentah Brent berjangka naik 1,4 persen menjadi US$89,38 per barel. Kenaikan terjadi setelah pasukan AS menyerang dua peluncur roket Iran di Pulau Larak pada Minggu (30/8/2026). Iran kemudian merespons dengan menyerang pasukan AS yang berada di Yordania.
Kenaikan harga energi kembali menjadi perhatian pasar karena berpotensi meningkatkan tekanan inflasi. Kondisi tersebut membuat investor di pasar obligasi lebih berhati-hati.
Sentimen tersebut semakin kuat setelah Ketua Federal Reserve Kevin Warsh pada Jumat menegaskan bahwa bank sentral AS masih memiliki tugas untuk menjaga inflasi tetap terkendali.
Pasar kemudian meningkatkan perkiraan peluang kenaikan suku bunga pada September menjadi 57 persen. Ekspektasi tersebut mendorong kenaikan tajam imbal hasil Treasury jangka pendek sekaligus membuat kurva imbal hasil semakin datar.
Ekonom JPMorgan Michael Feroli menilai kenaikan suku bunga pada September masih terbuka, meski pihaknya belum mengubah proyeksi utama.
“Kami tetap memperkirakan bahwa kenaikan suku bunga tidak akan terjadi hingga bulan Desember, meskipun kami sepakat bahwa pertemuan bulan September masih membuka peluang bagi langkah tersebut,” ujar Feroli.
Menurut Feroli, pernyataan Warsh juga memberikan sinyal mengenai pendekatan kebijakan moneter ke depan, khususnya terkait upaya mengendalikan inflasi.
“Selain itu, terlepas dari waktu pasti kenaikan suku bunga, pidato Warsh mengisyaratkan sosok ketua yang lebih bersedia menerjemahkan kekhawatirannya mengenai inflasi ke dalam kebijakan pengetatan,” ia menambahkan.
Perhatian investor selanjutnya tertuju pada sejumlah data ekonomi Amerika Serikat yang dapat memengaruhi keputusan Federal Reserve.
Laporan ketenagakerjaan atau payrolls Agustus akan dirilis pada Jumat. Setelah itu, data harga konsumen AS dijadwalkan keluar pada 11 September.
Kedua data tersebut diperkirakan menjadi indikator penting bagi pasar untuk membaca arah kebijakan suku bunga AS. Jika tekanan inflasi dan kondisi pasar tenaga kerja menunjukkan penguatan, peluang kenaikan suku bunga lebih awal dapat kembali meningkat.
Di tengah ketidakpastian geopolitik dan kebijakan moneter tersebut, investor Asia masih mencermati pergerakan harga minyak, imbal hasil obligasi, serta perkembangan konflik AS-Iran sebagai faktor utama yang memengaruhi pasar.
Sumber: Liputan6
