Prestasi Membuat Kagum, Sikap Membuat Dikenang
RBN || Jakarta
Coba ingat kembali seorang guru dari masa sekolah dahulu. Kemungkinan besar, yang paling diingat bukan seberapa banyak gelar yang ia miliki atau seberapa tinggi nilai yang pernah ia raih semasa kuliah, melainkan caranya bersikap, apakah ia sabar saat menjelaskan berulang kali, apakah ia adil kepada semua murid, atau apakah ia pernah mempermalukan seseorang di depan kelas.
Psikolog Susan Fiske dari Princeton University, yang meneliti bagaimana manusia menilai orang lain, menemukan bahwa penilaian sosial pada dasarnya berjalan pada dua dimensi utama, yaitu kehangatan dan kompetensi. Kompetensi berkaitan dengan seberapa mampu dan berprestasi seseorang, sementara kehangatan berkaitan dengan seberapa baik dan peduli sikapnya terhadap orang lain. Menariknya, penelitian ini menunjukkan bahwa penilaian tentang kehangatan biasanya terbentuk lebih cepat dan bertahan lebih lama dalam ingatan dibanding penilaian tentang kompetensi semata.
Temuan ini menjelaskan mengapa seseorang bisa sangat mengesankan di atas kertas, namun tetap sulit dipercaya atau disukai jika sikapnya dingin dan meremehkan. Sebaliknya, seseorang dengan pencapaian sederhana namun tulus dan hangat sering kali lebih dipercaya dan lebih dikenang, sebab kehangatan memberi sinyal bahwa seseorang dapat diandalkan secara emosional, bukan hanya secara teknis.
Prestasi memang penting, dan tidak ada yang salah dengan berusaha meraihnya. Namun prestasi cenderung menciptakan kekaguman yang sifatnya sementara. Ia membuat orang lain terkesan pada momen tertentu, seperti saat melihat sertifikat, jabatan, atau pencapaian besar yang dipamerkan. Kekaguman semacam ini mudah muncul, namun juga mudah pudar begitu ada pencapaian lain yang lebih mengesankan muncul di kemudian hari.
Sikap bekerja dengan cara yang berbeda. Ia tidak selalu langsung terlihat mencolok, namun terus terkumpul dari waktu ke waktu, dari cara seseorang menyapa, mendengarkan, memperlakukan orang yang tidak setara posisinya, dan merespons kesalahan orang lain. Kumpulan sikap kecil inilah yang lama-lama membentuk kesan yang jauh lebih dalam dan lebih sulit tergantikan dibanding sekadar daftar pencapaian.
Banyak orang keliru mengira bahwa untuk dikenang, seseorang harus mencapai sesuatu yang besar dan luar biasa. Padahal kenyataannya, orang yang paling dikenang justru sering kali bukan yang paling berprestasi, melainkan yang paling konsisten memperlakukan orang lain dengan baik, bahkan dalam situasi yang tidak menguntungkan dirinya sendiri.
Kombinasi antara prestasi dan sikap yang baik sebenarnya adalah kondisi ideal, namun ketika keduanya harus dipilih, penelitian tentang penilaian sosial menunjukkan bahwa kehangatan biasanya menjadi penentu utama kepercayaan seseorang terhadap orang lain. Seseorang lebih cepat memaafkan kekurangan kompetensi dibanding memaafkan sikap yang meremehkan atau tidak menghargai.
Menjaga sikap yang baik bukan berarti seseorang harus berhenti mengejar prestasi. Keduanya bisa berjalan beriringan. Seseorang tetap bisa bekerja keras meraih pencapaian besar, sambil tetap menjaga cara bicaranya, tetap menghargai orang yang membantunya, dan tetap rendah hati meski hasil kerjanya diakui banyak orang.
Sikap yang tulus juga tidak bisa dipalsukan dalam jangka panjang. Seseorang mungkin bisa berpura-pura ramah dalam satu dua pertemuan, namun karakter sesungguhnya akan terlihat ketika situasi menekan, ketika tidak ada yang mengawasi, atau ketika berhadapan dengan orang yang tidak memiliki kepentingan apa pun terhadap dirinya.
Prestasi akan selalu punya tempatnya sendiri, sebab ia menunjukkan kemampuan dan kerja keras seseorang. Namun yang membuat seseorang benar-benar dikenang, bertahun-tahun setelah pencapaiannya dilupakan orang, adalah bagaimana ia memperlakukan orang-orang di sekitarnya sepanjang perjalanan menuju pencapaian itu.
