Adab Tidak Pernah Kalah oleh Gelar
RBN || Jakarta
Perhatikan bagaimana seseorang berbicara kepada petugas parkir, kepada pramusaji yang salah mencatat pesanan, atau kepada office boy yang terlambat membereskan meja. Cara seseorang memperlakukan orang-orang yang tidak memiliki kekuasaan apa pun atasnya sering kali jauh lebih jujur menggambarkan karakternya, dibanding cara ia bersikap di depan atasan atau orang yang dianggap penting.
Psikolog Dacher Keltner dari University of California, Berkeley, yang meneliti dampak kekuasaan terhadap perilaku manusia selama bertahun-tahun, menemukan pola yang cukup mengkhawatirkan. Semakin besar kekuasaan, status, atau kelebihan yang dimiliki seseorang, semakin besar pula kecenderungannya kehilangan empati terhadap orang lain. Penelitiannya menunjukkan bahwa posisi tinggi dapat membuat seseorang lebih sulit membaca emosi orang lain, lebih mudah menyela pembicaraan, dan lebih jarang memperhatikan kebutuhan orang-orang di sekitarnya.
Temuan ini penting karena membalikkan anggapan umum bahwa semakin tinggi pendidikan atau posisi seseorang, semakin baik pula perilakunya. Kenyataannya, gelar dan jabatan tidak secara otomatis membuat seseorang lebih santun. Justru tanpa kesadaran yang aktif dijaga, kelebihan tersebut dapat perlahan mengikis kepekaan terhadap orang lain, sebab semakin sedikit orang yang berani mengoreksi seseorang yang berada di posisi tinggi.
Fenomena ini dapat dilihat dari kebiasaan sederhana yang sering luput dari perhatian. Orang dengan kekuasaan cenderung lebih sering memotong pembicaraan orang lain, lebih jarang mengucapkan terima kasih kepada bawahannya, dan lebih mudah menunjukkan ketidaksabaran ketika berurusan dengan orang yang dianggap tidak setara posisinya. Kebiasaan kecil ini, jika dibiarkan, dapat berkembang menjadi pola yang jauh lebih merusak hubungan dengan orang-orang di sekitarnya.
Menariknya, pendidikan seharusnya bekerja ke arah yang berlawanan. Semakin banyak seseorang belajar, semestinya semakin besar pula kesadarannya bahwa pengetahuan manusia selalu memiliki batas. Tidak ada satu gelar pun yang membuat seseorang bebas dari kemungkinan salah, dan tidak ada satu jabatan pun yang membuat seseorang berhak memperlakukan orang lain dengan seenaknya.
Adab yang terjaga meski memiliki kelebihan bukan berarti seseorang harus mengecilkan pencapaiannya sendiri. Seseorang tetap boleh menyadari bahwa dirinya pintar, berpengalaman, atau memiliki posisi penting. Perbedaannya terletak pada apakah kesadaran itu digunakan untuk merasa lebih berharga dibanding orang lain, atau justru digunakan untuk lebih bertanggung jawab dalam memperlakukan sesama.
Kedewasaan sesungguhnya terlihat ketika seseorang tidak perlu terus-menerus membuktikan bahwa dirinya paling tahu. Ia mampu mendengarkan tanpa merasa kehilangan wibawa, menerima koreksi tanpa merasa harga dirinya runtuh, dan mengakui ketika belum mengetahui sesuatu tanpa takut dianggap lemah. Sikap seperti ini justru sering membuat seseorang lebih dihormati, bukan kurang dihormati.
Menghargai orang lain tidak berarti harus selalu sependapat dengan mereka. Kritik tetap dapat disampaikan, kesalahan tetap dapat dikoreksi, dan pendapat berbeda tetap dapat dipertahankan. Namun ketegasan tidak perlu berubah menjadi penghinaan, kebenaran tidak perlu disampaikan dengan mempermalukan, dan standar tinggi tidak harus membuat orang yang masih belajar merasa tidak berharga.
Banyak konflik di keluarga, tempat kerja, maupun ruang publik sebenarnya tidak membesar karena perbedaan pandangan, melainkan karena ada pihak yang merasa terlalu benar untuk mendengarkan. Semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar pula godaan untuk merasa pendapatnya paling layak didengar, padahal justru di posisi itulah kerendahan hati menjadi paling dibutuhkan.
Pencapaian dapat membuat seseorang dikagumi, namun cara ia memperlakukan sesama yang menentukan apakah kekaguman itu bertahan menjadi penghormatan yang tulus, atau hanya menjadi rasa segan yang hilang begitu kekuasaannya berakhir. Gelar dapat memberi posisi, tetapi hanya adab yang mampu menjaga posisi itu tetap dihormati dari waktu ke waktu.
