Tidak Harus Selalu Benar untuk Tetap Berwibawa
RBN || Jakarta
Seorang pemimpin tim pernah salah membuat keputusan yang berdampak pada seluruh anggotanya. Alih-alih mencari alasan atau menyalahkan pihak lain, ia berdiri di depan timnya dan berkata dengan jelas, ini keputusan saya, dan saya keliru. Momen itu, yang seharusnya melemahkan wibawanya, justru membuat timnya semakin mempercayainya. Mereka melihat seseorang yang cukup kuat untuk jujur, bukan seseorang yang harus selalu benar untuk dihormati.
Psikolog Amy Edmondson dari Harvard Business School, yang meneliti dinamika tim dan kepemimpinan selama puluhan tahun, menemukan bahwa pemimpin yang berani mengakui kesalahannya justru menciptakan sesuatu yang disebutnya sebagai rasa aman secara psikologis dalam kelompok. Ketika seorang pemimpin menunjukkan bahwa mengakui kekeliruan adalah hal yang wajar, anggota timnya merasa lebih aman untuk turut jujur, berani mengajukan pertanyaan, dan tidak takut melaporkan masalah sebelum menjadi lebih besar.
Sebaliknya, pemimpin yang bersikeras selalu benar justru sering menciptakan lingkungan yang penuh ketakutan. Anggota timnya belajar untuk menyembunyikan kesalahan, menunda kabar buruk, atau berpura-pura setuju meski sebenarnya ragu, sebab mereka tahu ketidaksepakatan akan direspons dengan pembelaan diri, bukan diskusi terbuka. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini justru membuat masalah kecil berkembang menjadi masalah besar, sebab tidak ada yang berani bersuara sejak awal.
Kewibawaan yang bergantung pada citra selalu benar sebenarnya sangat rapuh. Ia hanya bertahan selama tidak ada kesalahan yang terlihat. Begitu satu kekeliruan terbongkar, seluruh citra tersebut berisiko runtuh sekaligus, sebab orang-orang di sekitarnya merasa telah lama dibohongi tentang kesempurnaan yang sebenarnya tidak pernah ada.
Kewibawaan yang dibangun dari kejujuran justru bekerja sebaliknya. Ia tidak bergantung pada rekam jejak tanpa cela, melainkan pada konsistensi dalam mengakui kesalahan, memperbaikinya, dan terus berusaha menjadi lebih baik. Orang-orang cenderung lebih percaya kepada seseorang yang mereka tahu akan jujur ketika salah, dibanding seseorang yang selalu tampil sempurna namun sulit ditebak kejujurannya.
Mengakui kesalahan sering dianggap sebagai tanda kelemahan, terutama dalam budaya yang menghargai citra kuat dan tidak tergoyahkan. Padahal mengakui kesalahan membutuhkan kekuatan tersendiri, sebab seseorang harus melepaskan kebutuhan untuk selalu terlihat benar demi menjaga hubungan yang lebih jujur dengan orang-orang di sekitarnya.
Wibawa yang sesungguhnya tidak runtuh hanya karena satu kesalahan diakui secara terbuka. Yang justru merusak wibawa adalah ketika kesalahan itu ditutupi, lalu terbongkar di kemudian hari dengan cara yang lebih memalukan. Mengakui kekeliruan lebih awal, dengan cara yang bertanggung jawab, jauh lebih menjaga kepercayaan dibanding menyangkalnya sampai tidak bisa disembunyikan lagi.
Cara menyampaikan kesalahan juga menentukan bagaimana ia diterima. Pengakuan yang disertai penjelasan konkret tentang apa yang akan diperbaiki terasa berbeda dari pengakuan yang hanya berhenti pada permintaan maaf tanpa tindak lanjut. Orang-orang lebih mudah memaafkan kesalahan yang diikuti perubahan nyata, dibanding kesalahan yang terus berulang meski sudah berkali-kali diakui.
Ini berlaku bukan hanya bagi pemimpin di tempat kerja, tetapi juga bagi orang tua di rumah, guru di kelas, atau siapa pun yang memegang posisi yang dipercaya orang lain. Seorang orang tua yang berani berkata kepada anaknya, ibu tadi salah bicara, maaf ya, sebenarnya sedang mengajarkan sesuatu yang jauh lebih berharga dibanding sekadar menjaga citra selalu benar di depan anaknya.
Wibawa yang tahan lama tidak dibangun dari rekam jejak tanpa kesalahan, sebab rekam jejak semacam itu tidak pernah benar-benar ada pada manusia mana pun. Wibawa yang tahan lama dibangun dari kejujuran untuk mengakui saat keliru, kesediaan untuk memperbaiki diri, dan konsistensi dalam memperlakukan orang lain dengan hormat, terlepas dari apakah keputusan yang diambil selalu tepat atau tidak.
