Popular atau Famous, Pilihan Hidupmu antara Ingin Terlihat atau Ingin Berarti

RBN || Jakarta

Bayangkan dua orang yang sama-sama baru saja menyelesaikan sebuah proyek besar. Satu orang segera mengunggahnya ke media sosial, menunggu berapa banyak yang akan memberi tanda suka. Orang lain memilih menelepon dua atau tiga teman dekat untuk berbagi kebahagiaan itu secara langsung. Keduanya sama-sama merayakan pencapaian, tetapi keduanya sedang mencari sesuatu yang berbeda, satu mencari perhatian yang luas, satu lagi mencari kedekatan yang dalam.

Perbedaan ini menjadi inti dari dua kata yang sering tertukar, yaitu populer dan terkenal. Populer lebih dekat dengan rasa disukai oleh orang-orang di sekitar kita, entah di sekolah, tempat kerja, atau lingkungan pertemanan, karena dianggap menyenangkan, dapat dipercaya, dan enak diajak berinteraksi. Terkenal berbeda. Terkenal berarti dikenal oleh lingkaran yang jauh lebih luas, sering kali oleh orang-orang yang bahkan tidak pernah kita temui, dan pengenalan itu tidak selalu berarti mereka benar-benar dekat dengan kita.

Dunia digital membuat batas antara dua hal ini semakin kabur. Setiap unggahan kini punya angka, jumlah pengikut, tanda suka, komentar, tayangan. Angka-angka ini sebenarnya netral, hanya alat ukur biasa dalam dunia komunikasi. Masalah muncul ketika angka yang semula sekadar statistik perlahan bergeser menjadi ukuran seberapa berharga diri kita di mata sendiri.

Psikolog Jennifer Crocker, yang meneliti bagaimana harga diri seseorang bisa bergantung pada hal-hal tertentu, menemukan bahwa ketika nilai diri seseorang terlalu bergantung pada penilaian orang lain, termasuk penilaian di ruang publik, kestabilan emosinya menjadi rapuh. Kebahagiaan yang muncul hanya bertahan selama respons positif terus mengalir, dan runtuh secepat kilat begitu respons itu berhenti atau berkurang.

Pola ini terlihat jelas dalam kebiasaan sehari-hari. Hari yang sebenarnya cukup baik bisa terasa buruk hanya karena sebuah unggahan sepi respons. Sebaliknya, hal yang biasa saja bisa terasa istimewa hanya karena mendapat banyak tanda suka. Pelan-pelan, pertanyaan yang muncul dalam pikiran bukan lagi apakah sesuatu itu bermakna bagi diri sendiri, melainkan apakah orang lain cukup terkesan melihatnya.

Kebiasaan ini bisa mengubah cara seseorang menjalani momen-momen sederhana. Makanan yang seharusnya dinikmati justru dipikirkan dulu apakah cukup menarik untuk difoto. Perjalanan yang seharusnya dirasakan sepenuhnya justru sebagian perhatiannya tersita mencari sudut terbaik untuk kamera. Bahkan kebahagiaan kadang terasa belum lengkap sebelum ada bukti digital yang menunjukkannya kepada orang lain.

Ini bukan berarti berbagi momen kehidupan adalah hal yang salah. Media sosial tetap punya banyak manfaat, membuka peluang berkarya, memperluas jaringan, dan menyampaikan gagasan kepada lebih banyak orang. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai kebiasaan berbagi berubah menjadi kebutuhan mutlak, sehingga sebuah momen terasa hampa apabila tidak segera diketahui banyak orang.

Salah satu jebakan terbesar dari kebiasaan ini adalah kecenderungan membandingkan hidup sendiri dengan potongan terbaik kehidupan orang lain. Kita melihat foto liburannya, tetapi tidak tahu tekanan keuangan di baliknya. Kita melihat kabar promosi jabatannya, tetapi tidak menyaksikan kegagalan yang mendahuluinya bertahun-tahun. Kita membandingkan seluruh cerita hidup sendiri, lengkap dengan kekurangannya, dengan bagian terbaik dari cerita orang lain yang memang sengaja ditampilkan.

Keinginan untuk dikenal sebenarnya bukan sesuatu yang perlu dihindari. Yang lebih penting justru dipertanyakan adalah mengapa keinginan itu muncul. Ada orang yang ingin dikenal karena karyanya layak didengar, misalnya seorang guru yang gagasannya membantu banyak murid, atau seorang perajin yang hasil karyanya menyentuh banyak orang. Bagi mereka, dikenal menjadi jalan untuk menyebarkan sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.

Persoalan berbeda muncul ketika perhatian publik itu sendiri yang menjadi tujuan akhir. Ketika harga diri seseorang digantungkan pada seberapa banyak respons yang diterima, rasa puas menjadi sulit dicapai. Seribu pengikut terasa kurang begitu melihat orang lain memiliki sepuluh ribu. Sepuluh ribu terasa kecil begitu ada yang mencapai seratus ribu. Standar ini tidak pernah benar-benar berhenti, sebab selalu ada angka yang lebih besar untuk dikejar berikutnya.

Perhatian publik juga terkenal rapuh. Tren berganti cepat, algoritma berubah, dan tokoh baru terus bermunculan menggantikan yang lama. Sesuatu yang ramai dibicarakan hari ini bisa hilang dari percakapan dalam hitungan hari. Menggantungkan seluruh rasa berharga pada sesuatu yang begitu mudah berubah sama seperti membangun rumah di atas tanah yang terus bergerak.

Ada hal yang jauh lebih stabil untuk dijadikan pijakan, yaitu kualitas hubungan dan kualitas diri sendiri. Dikenal oleh ribuan orang tidak menjamin ada yang benar-benar datang saat kita kesulitan. Memiliki banyak pengikut tidak otomatis berarti punya tempat aman untuk bercerita. Sebaliknya, satu percakapan yang tulus dengan orang yang benar-benar peduli sering memberi rasa aman yang jauh lebih nyata dibanding ribuan komentar singkat.

Popularitas dan ketenaran sebenarnya tidak perlu dianggap sebagai lawan dari kehidupan yang bermakna. Dikenal banyak orang bukan kesalahan, dan berkarya secara terbuka juga bukan tanda kesombongan. Yang perlu dijaga hanyalah jangan sampai angka-angka itu menentukan seluruh cara kita memandang diri sendiri. Pertanyaan yang lebih layak direnungkan bukan berapa banyak orang mengenal nama kita, melainkan apakah pekerjaan kita berkualitas, apakah kita tetap baik ketika tidak ada yang melihat, dan apakah kehadiran kita membawa manfaat bagi sekitar.

Ketenaran bisa datang dalam hitungan hari, tetapi makna yang sesungguhnya biasanya tumbuh lewat perjalanan yang jauh lebih panjang, lewat kejujuran, konsistensi, dan kepedulian yang tetap dijalani meski tidak segera mendapat tepuk tangan. Ketika kesempatan untuk dikenal itu datang, tidak perlu ditolak, cukup jadikan sebagai jalan untuk memperluas manfaat, bukan sebagai alasan utama menjalani hidup. Sebab hidup tidak menjadi lebih berarti hanya karena semakin banyak orang mengetahuinya, melainkan karena kualitas dan kebaikan yang tetap tinggal, bahkan saat sorotan itu perlahan meredup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *