Tidak Harus Selalu Kuat untuk Tetap Melangkah
RBN || Jakarta
Ada anggapan yang diam-diam dipercaya banyak orang, bahwa untuk bisa terus berjalan menghadapi hidup, seseorang harus merasa kuat terlebih dahulu. Padahal kenyataannya sering terbalik. Banyak orang justru terus melangkah meski sedang tidak merasa kuat sama sekali, meski tangannya gemetar, meski hatinya penuh keraguan, meski air matanya belum sepenuhnya kering.
Langkah yang diambil dalam kondisi seperti itu sering tidak terlihat istimewa. Seseorang bangun pagi, menyiapkan sarapan, berangkat kerja, menyelesaikan tugas satu per satu, meski semalam ia hampir tidak tidur karena pikirannya penuh. Tidak ada tepuk tangan untuk langkah-langkah kecil semacam ini, padahal di baliknya tersimpan perjuangan yang sesungguhnya tidak ringan.
Psikiater Viktor Frankl, yang selamat dari kamp konsentrasi pada masa Perang Dunia Kedua, menulis dalam pengalamannya bahwa manusia dapat bertahan menghadapi penderitaan yang sangat berat, bukan karena mereka merasa kuat, melainkan karena mereka menemukan makna dalam apa yang sedang mereka jalani. Ia menyimpulkan bahwa yang membuat seseorang mampu terus melangkah bukan semata kekuatan fisik atau mental yang sempurna, melainkan alasan yang cukup kuat untuk terus bergerak, sekecil apa pun alasan itu.
Pemikiran ini memberi cara pandang baru tentang apa artinya bertahan. Seseorang tidak perlu menunggu dirinya merasa benar-benar siap atau benar-benar tegar untuk mulai melangkah. Banyak orang justru menemukan kekuatan itu di tengah jalan, setelah mereka memutuskan untuk tetap bergerak meski perasaannya masih berantakan.
Kita sering keliru mengira bahwa melangkah maju hanya boleh dilakukan oleh orang yang sudah pulih sepenuhnya. Padahal dalam kenyataan, pemulihan dan pergerakan sering terjadi bersamaan. Seseorang bisa saja masih berduka sambil tetap menjalankan tanggung jawabnya. Seseorang bisa saja masih cemas sambil tetap berani mencoba hal baru. Menunggu perasaan sempurna terlebih dahulu justru bisa membuat seseorang berhenti terlalu lama di tempat yang sama.
Melangkah bukan berarti mengabaikan atau menyangkal apa yang sedang dirasakan. Seseorang tetap boleh mengakui bahwa dirinya sedang lelah, sedang takut, atau sedang tidak baik-baik saja, sambil tetap memilih untuk bangun dan menjalani hari. Dua hal ini, kejujuran terhadap perasaan dan keberanian untuk tetap bergerak, sebenarnya bisa berjalan berdampingan tanpa harus saling meniadakan.
Langkah kecil sering diremehkan karena tidak terlihat dramatis. Namun langkah kecil yang konsisten justru sering membawa perubahan lebih nyata dibanding harapan besar yang hanya berhenti sebagai keinginan. Sekadar bangun dari tempat tidur pada hari yang terasa berat, menyelesaikan satu tugas kecil di tengah pikiran yang penuh, atau menghubungi satu orang untuk sekadar bercerita, semuanya adalah bentuk melangkah, meski tidak terlihat sebesar itu dari luar.
Menuntut diri sendiri untuk selalu kuat justru bisa menjadi beban tambahan di atas kesulitan yang sudah ada. Ketika seseorang gagal memenuhi tuntutan itu, muncul perasaan gagal berlapis, yaitu kesulitan yang sedang dihadapi, ditambah rasa bersalah karena dianggap tidak cukup tangguh menghadapinya. Padahal tidak ada keharusan untuk merasa kuat setiap saat agar layak disebut sedang berjuang.
Mencari makna dalam kesulitan tidak selalu berarti menemukan jawaban besar tentang tujuan hidup. Terkadang maknanya sesederhana keinginan untuk tetap ada bagi orang-orang yang menyayangi kita, harapan untuk melihat hari esok yang lebih tenang, atau sekadar rasa penasaran tentang bagaimana kelanjutan cerita hidup sendiri. Alasan sekecil itu, jika dipegang erat, ternyata cukup untuk menuntun seseorang melewati hari yang berat satu per satu.
Tidak harus menunggu menjadi kuat untuk pantas melangkah. Kekuatan sering kali baru terkumpul justru setelah seseorang berani bergerak lebih dulu, bukan sebelumnya. Melangkah dalam keadaan rapuh bukan tanda kelemahan, melainkan bukti bahwa seseorang masih memilih untuk terus berjalan, meski jalannya belum terlihat jelas dan meski tenaganya belum sepenuhnya pulih.
