Merasa Tertinggal, Saat Hidup Dibandingkan dengan Etalase Orang Lain

RBN || Jakarta

Bayangkan berjalan melewati sebuah etalase toko yang tertata rapi, lampu terang, barang tersusun sempurna, tanpa satu pun cela terlihat. Kita jarang berpikir tentang gudang di baliknya, barang yang cacat, stok yang menumpuk, atau kekacauan yang sengaja disembunyikan agar etalase tetap terlihat sempurna. Media sosial bekerja dengan cara yang sama. Setiap unggahan adalah etalase, sementara kehidupan yang sesungguhnya, lengkap dengan kekacauannya, tersimpan rapi di ruang belakang yang tidak pernah diperlihatkan.

Masalahnya, kita jarang menyadari bahwa yang kita lihat hanyalah etalase. Kita membandingkan seluruh isi gudang kehidupan sendiri, lengkap dengan tumpukan masalah dan kegagalan yang belum selesai, dengan etalase kehidupan orang lain yang sudah dipoles dan dipilih sedemikian rupa. Perbandingan semacam ini timpang sejak awal, namun rasanya begitu nyata sehingga kita jarang berhenti untuk mempertanyakannya.

Psikolog Ethan Kross dari University of Michigan meneliti bagaimana kebiasaan menggulir media sosial memengaruhi perasaan seseorang dari waktu ke waktu. Ia menemukan bahwa semakin sering seseorang membuka media sosial secara pasif, sekadar melihat unggahan orang lain tanpa benar-benar berinteraksi, semakin besar pula penurunan yang dirasakan pada suasana hatinya. Kesenjangan antara kehidupan sendiri dan kehidupan yang tampil di layar itulah yang perlahan menumbuhkan rasa tertinggal.

Rasa tertinggal ini punya pola yang khas. Ia jarang muncul karena kita benar-benar mengetahui hidup kita buruk. Ia muncul karena kita membandingkan satu potongan kecil kehidupan orang lain dengan keseluruhan hidup kita sendiri. Foto liburan yang diunggah seseorang hanya mewakili beberapa menit dari perjalanan panjang yang mungkin penuh kelelahan, biaya membengkak, atau pertengkaran kecil yang tidak pernah dibagikan.

Kita melihat kabar kelulusan, promosi jabatan, atau rumah baru seseorang, lalu diam-diam menghitung seberapa jauh diri sendiri tertinggal. Padahal kita tidak pernah tahu berapa lama proses di baliknya, berapa kali orang tersebut gagal sebelum akhirnya berhasil, atau berapa besar tekanan yang sedang ia tanggung di balik kabar baik yang terlihat begitu ringan itu.

Perbandingan seperti ini punya efek yang menumpuk dari waktu ke waktu. Standar kebahagiaan yang semula datang dari kebutuhan dan nilai pribadi perlahan bergeser, mengikuti apa yang terlihat di linimasa orang lain. Sesuatu yang dulunya terasa cukup, bahkan membanggakan, bisa tiba-tiba terasa kurang, hanya karena muncul pencapaian serupa milik orang lain yang tampak lebih besar atau lebih cepat diraih.

Perasaan tertinggal juga sering muncul karena kita lupa bahwa setiap orang berjalan dengan kecepatan yang berbeda. Ada yang menikah di usia muda, ada yang menemukan pasangannya lebih lambat. Ada yang karier melesat sejak awal, ada yang baru menemukan jalannya setelah berkali-kali berpindah arah. Waktu yang dibutuhkan setiap orang untuk mencapai sesuatu tidak pernah bisa disamakan, meski usia atau latar belakangnya tampak serupa.

Menariknya, rasa tertinggal sering kali tidak hilang meski pencapaian terus bertambah. Sebab masalahnya bukan pada kurangnya pencapaian, melainkan pada kebiasaan pikiran yang terus mencari pembanding baru. Begitu satu standar terlampaui, standar berikutnya sudah menunggu, sebab selalu ada etalase lain yang tampak lebih menarik dari etalase kita sendiri.

Melepaskan diri dari pola ini dapat dimulai dari kesadaran sederhana, bahwa apa yang kita lihat di media sosial adalah hasil seleksi, bukan potret utuh. Setiap kali muncul dorongan membandingkan diri, ada baiknya bertanya, apakah kita sedang membandingkan seluruh kisah hidup kita dengan satu adegan terbaik dari kisah hidup orang lain.

Mengalihkan perhatian dari pencapaian orang lain menuju perjalanan diri sendiri juga membantu meredakan rasa tertinggal. Menilai kemajuan berdasarkan posisi kita sendiri di masa lalu, bukan berdasarkan posisi orang lain hari ini, memberi ukuran yang jauh lebih adil, sebab perjalanan setiap orang memang tidak pernah benar-benar sama.

Membatasi waktu menggulir media sosial secara pasif, dan menggantinya dengan interaksi yang lebih nyata bersama orang-orang terdekat, juga dapat membantu mengembalikan rasa cukup yang sempat hilang. Kehidupan yang sesungguhnya, dengan segala kekurangannya, memang tidak akan pernah bisa bersaing dengan etalase yang sudah dipoles sedemikian rupa. Namun kehidupan itulah satu-satunya yang benar-benar kita jalani, dan layak dihargai apa adanya, bukan dibandingkan terus-menerus dengan kilau milik orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *