Stoisisme Bukan Tanpa Perasaan, Melainkan Tahu Batas Kendali

  • Share
Ilustrasi

RBN || Jakarta

Kata stoic dalam percakapan sehari-hari sering dipakai untuk menggambarkan seseorang yang dingin, datar, dan tidak menunjukkan emosi apa pun, seolah tidak ada yang benar-benar mampu menggoyahkannya. Gambaran ini begitu melekat sehingga banyak orang mengira filsafat Stoa, yang menjadi asal kata tersebut, memang mengajarkan manusia untuk mematikan perasaannya. Padahal jika ditelusuri kembali ke tulisan asli para filsuf Stoa, gambaran ini jauh dari yang sesungguhnya mereka maksudkan.

Marcus Aurelius, seorang kaisar Romawi yang juga menuliskan renungan pribadinya yang kini dikenal sebagai Meditations, banyak menuliskan tentang teknik yang dapat disebut sebagai pandangan dari atas, sebuah latihan membayangkan diri sendiri dan segala persoalan yang dihadapinya dari sudut pandang yang jauh lebih luas, seolah melihat dari ketinggian langit. Latihan ini bukan dimaksudkan untuk mengecilkan atau meremehkan perasaan seseorang, melainkan untuk membantu menempatkan sebuah masalah dalam proporsi yang lebih tepat, sehingga seseorang tidak terjebak dalam persepsi bahwa satu persoalan tertentu adalah keseluruhan dari hidupnya.

Kesalahpahaman bahwa Stoisisme berarti menekan emosi sesungguhnya justru bertentangan dengan risiko yang selama ini banyak dibuktikan penelitian psikologi modern, bahwa penekanan emosi secara berlebihan justru dapat menimbulkan konsekuensi negatif terhadap kesehatan mental dan fisik seseorang dalam jangka panjang. Stoisisme yang dipahami secara keliru sebagai anjuran untuk selalu tenang tanpa perasaan, jika dipraktikkan secara harfiah, justru dapat menjerumuskan seseorang pada pola yang sama berbahayanya dengan yang coba dihindari oleh para filsuf Stoa itu sendiri.

Dalam ranah personal branding dan kepemimpinan, kesalahpahaman ini juga sering muncul dalam gambaran ideal tentang pemimpin yang tenang dalam segala situasi. Banyak orang mengira bahwa menjadi pemimpin yang tangguh berarti tidak boleh menunjukkan kekhawatiran atau kekecewaan sama sekali di depan timnya. Padahal pemimpin yang benar-benar dipercaya justru sering kali adalah mereka yang mampu mengakui kekhawatirannya secara jujur, sambil tetap menunjukkan bahwa mereka memiliki kendali penuh atas bagaimana meresponsnya, bukan mereka yang berpura-pura tidak pernah merasakan apa pun.

Ketenangan yang dibangun di atas penyangkalan perasaan cenderung rapuh dan mudah runtuh pada momen kritis, sementara ketenangan yang dibangun di atas kesadaran penuh terhadap perasaan yang dirasakan, disertai kejelasan tentang apa yang masih dapat dikendalikan dan apa yang tidak, cenderung jauh lebih stabil dan lebih dipercaya oleh orang-orang di sekitarnya, sebab ketenangan semacam ini terasa nyata, bukan sekadar topeng yang dikenakan untuk menjaga citra.

Menerapkan prinsip Stoa yang sesungguhnya berarti memberi ruang bagi reaksi emosional pertama untuk muncul secara wajar, mengakuinya tanpa menghakimi diri sendiri karena merasakannya, kemudian secara sadar memilih respons yang selaras dengan nilai yang dipegang, alih-alih membiarkan reaksi awal tersebut berkembang tanpa kendali menjadi tindakan yang disesali kemudian. Proses ini membutuhkan latihan yang konsisten, sebab jeda antara rangsangan dan respons bukan sesuatu yang otomatis dimiliki, melainkan keterampilan yang tumbuh melalui kesadaran yang terus dipraktikkan dari waktu ke waktu.

Stoisisme, jika dipahami secara utuh, bukan mengajarkan manusia untuk berhenti merasakan, melainkan mengajarkan kejernihan untuk membedakan apa yang berada dalam kendali dan apa yang tidak, sambil tetap memberi ruang penuh bagi perasaan yang wajar untuk hadir dan diakui. Ketenangan sejati bukan ketiadaan emosi, melainkan kemampuan menjalani emosi tanpa membiarkannya mengambil alih kendali atas keputusan dan tindakan yang diambil seseorang dalam hidupnya.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *