RBN || Jakarta
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sebanyak 7,22 juta orang belum bekerja berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Mei 2026. Angka tersebut berasal dari total 155,41 juta orang angkatan kerja, dengan 148,19 juta orang di antaranya telah bekerja.
Data BPS menunjukkan bahwa tantangan dunia kerja tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan lapangan pekerjaan, tetapi juga kualitas dan kesesuaian kompetensi tenaga kerja dengan kebutuhan pasar.
Pada Mei 2026, mayoritas penduduk yang bekerja masih berasal dari kelompok berpendidikan SD ke bawah, yakni mencapai 35,40%. Sementara itu, pekerja lulusan D4, S1, S2, hingga S3 hanya sekitar 10,75%.
Di sisi lain, lulusan pendidikan tinggi juga masih menghadapi persoalan dalam memasuki dunia kerja. Dari total pengangguran, 14,31% merupakan lulusan D4 hingga S3. Jika dihitung, jumlahnya mencapai sekitar 1,03 juta orang.
Kelompok pengangguran terbesar berasal dari lulusan SMA dengan porsi 28%, disusul lulusan SMK 22,39%, SD ke bawah 17,18%, SMP 15,65%, D4-S3 14,31%, serta D1-D3 2,48%.
Meski demikian, terdapat perkembangan positif. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Mei 2026 tercatat 4,65%, turun 0,03 poin persentase dibandingkan Februari 2026. Artinya, dari setiap 100 orang angkatan kerja, sekitar lima orang masih menganggur.
Dari sisi pendapatan, rata-rata upah buruh pada Mei 2026 mencapai Rp3,39 juta per bulan. Lulusan D4-S3 memperoleh rata-rata upah tertinggi, yakni Rp4,99 juta, sedangkan pekerja berpendidikan SD ke bawah rata-rata menerima Rp2,12 juta.
Data tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan tetap memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas tenaga kerja. Namun, pendidikan perlu berjalan beriringan dengan keterampilan, pengalaman, dan kemampuan beradaptasi agar generasi muda semakin siap menghadapi perubahan dunia kerja.
Sumber: detikedu











