RBN || Jakarta
Seseorang bisa bekerja keras selama bertahun-tahun, menyelesaikan tanggung jawab yang tidak kecil, membantu banyak orang di sekelilingnya, lalu suatu hari bertanya pelan pada dirinya sendiri, apakah semua ini benar-benar berarti, kalau tidak ada yang menyadarinya? Pertanyaan seperti ini muncul lebih sering daripada yang dibayangkan, terutama pada orang-orang yang terbiasa bekerja di balik layar, jauh dari sorotan, jauh dari ucapan terima kasih yang terucap langsung.
Nilai diri yang dibangun di atas pengakuan orang lain punya cacat bawaan sejak awal, ia bergantung pada sesuatu yang sepenuhnya berada di luar kendali. Orang lain bisa lupa mengucapkan terima kasih bukan karena tidak menghargai, tetapi karena sedang sibuk dengan urusannya sendiri. Kontribusi seseorang bisa luput dari perhatian bukan karena tidak penting, tetapi karena begitu banyak hal lain yang menuntut perhatian orang-orang di sekitarnya. Jika nilai diri digantungkan pada pengakuan semacam itu, ia akan naik turun mengikuti mood dan kesibukan orang lain, bukan mengikuti kualitas dari apa yang sesungguhnya telah dilakukan.
Ini bukan berarti pengakuan tidak penting. Diakui atas usaha yang telah dicurahkan tetap terasa menyenangkan, dan wajar untuk berharap demikian. Persoalannya muncul ketika pengakuan berubah menjadi syarat, bukan lagi bonus. Ketika seseorang mulai merasa usahanya sia-sia hanya karena tidak ada yang memuji, di situlah nilai diri sudah bergeser dari sesuatu yang dimiliki menjadi sesuatu yang harus terus dibuktikan kepada orang lain.
Ada pekerjaan-pekerjaan yang secara alami jarang mendapat sorotan, merawat orang tua yang sakit tanpa ada yang tahu persis seberapa berat harinya, mendidik anak dengan sabar tanpa ada yang menghitung berapa banyak kali kesabaran itu diuji, menyelesaikan tugas rumit di kantor yang hasilnya dinikmati banyak orang tapi jarang dikaitkan dengan nama yang mengerjakannya. Orang-orang yang menjalani pekerjaan semacam ini punya dua pilihan, yaitu terus menunggu pengakuan yang mungkin tidak pernah datang, atau belajar menemukan makna dari pekerjaan itu sendiri, terlepas dari siapa yang menyadarinya.
Menariknya, kebutuhan akan pengakuan sering kali paling besar justru pada area yang paling dekat dengan identitas seseorang. Seorang penulis mungkin tidak terlalu peduli jika keahliannya memasak tidak dipuji, tapi bisa merasa runtuh ketika tulisannya tidak mendapat perhatian. Ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan pengakuan bukan soal kesombongan semata, melainkan soal ingin dilihat pada bagian diri yang paling dianggap penting, bagian yang paling banyak dicurahkan waktu dan hati untuk dikembangkan.
Melepaskan ketergantungan pada pengakuan bukan berarti berhenti peduli pada kualitas kerja atau berhenti berusaha menjadi lebih baik. Justru sebaliknya, seseorang yang tidak lagi bergantung pada pengakuan orang lain cenderung bekerja dengan standar yang lebih konsisten, karena motivasinya tidak naik turun mengikuti ada atau tidaknya sorotan. Ia tetap berusaha maksimal meski tidak ada yang menyaksikan, karena nilai dari usaha itu sudah dirasakan cukup dari dalam dirinya sendiri.
Ada latihan sederhana yang bisa membantu proses ini, sesekali mengakui sendiri hasil kerja atau usaha yang telah dilakukan, tanpa menunggu orang lain melakukannya lebih dulu. Bukan dengan cara memamerkannya, melainkan dengan sekadar berhenti sejenak dan mengakui dalam hati, “aku sudah berusaha keras untuk ini, dan itu berarti sesuatu, terlepas dari apakah ada yang menyadarinya atau tidak.” Kebiasaan kecil ini, jika terus dilatih, perlahan mengurangi ketergantungan pada validasi yang selama ini dicari dari luar.
Berharga tanpa harus diakui bukan berarti hidup dalam kesunyian tanpa hubungan yang saling menghargai. Ia berarti memiliki fondasi nilai diri yang cukup kuat, sehingga ketika pengakuan itu datang, ia diterima sebagai tambahan yang menyenangkan, bukan sebagai satu-satunya bukti bahwa usaha yang dilakukan memang berarti. Fondasi semacam ini membuat seseorang lebih tahan menghadapi masa-masa sepi dari apresiasi, tanpa kehilangan semangat untuk terus melakukan hal-hal yang memang layak dilakukan, dengan atau tanpa tepuk tangan dari siapa pun.











