Sthala Ubud Bangun Pariwisata Berkelanjutan Lewat Filosofi Tri Hita Karana

  • Share
Foto: Istimewa

RBN || Jakarta

Keberhasilan sebuah destinasi wisata tidak lagi cukup diukur dari jumlah kunjungan atau pendapatan yang dihasilkan. Tekanan yang terus meningkat terhadap lingkungan, budaya, dan ruang hidup masyarakat membuat pelaku industri pariwisata dituntut mengambil peran lebih besar dalam menjaga sumber daya yang menjadi daya tarik utama sebuah tempat, termasuk Bali.

Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali menjawab tuntutan tersebut dengan menempatkan Tri Hita Karana sebagai landasan operasional. Filosofi hidup masyarakat Hindu Bali ini diterjemahkan ke dalam kebijakan nyata yang menyentuh hubungan spiritual, kesejahteraan manusia, pelestarian budaya, penguatan ekonomi lokal, hingga perlindungan lingkungan.

Tri Hita Karana dikenal sebagai tiga unsur penyebab kebahagiaan dan kesejahteraan, yakni parahyangan, keharmonisan hubungan manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa; pawongan, keharmonisan antarmanusia; serta palemahan, keharmonisan manusia dengan alam. Ketiganya berjalan sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Sebuah pembangunan tidak dapat dikatakan berhasil apabila hanya mengejar keuntungan ekonomi namun mengabaikan kesejahteraan pekerja, melemahkan masyarakat lokal, atau merusak lingkungan sekitar. Filosofi inilah yang mendasari sistem subak, warisan budaya Bali yang telah diakui UNESCO sejak 2012 sebagai contoh nyata harmoni antara kehidupan spiritual, sosial, dan alam.

Prinsip yang sama kini mulai diadaptasi ke dalam industri perhotelan. Multi-property Director of Sales and Marketing Sthala Ubud Bali dan Fairfield by Marriott Bali Legian, Sugeng Purnomo, menegaskan bahwa investasi hijau yang dijalankan hotel berangkat dari kesadaran akan daya dukung Bali yang terbatas, sehingga pariwisata hanya dapat bertahan bila seluruh pemangku kepentingan turut menjaga lingkungan dan budaya secara bersama-sama.

Unsur parahyangan tercermin dari penyediaan tempat persembahyangan bagi karyawan serta ruang untuk menjalankan kewajiban keagamaan. Penggunaan pakaian adat Bali pada hari tertentu dan pengenalan tradisi kepada tamu turut menegaskan bahwa nilai spiritual dan identitas budaya setempat tidak sekadar ditampilkan sebagai atraksi, melainkan dihidupkan dalam keseharian operasional hotel.

Unsur pawongan diwujudkan melalui perhatian terhadap kesejahteraan karyawan dan penguatan hubungan antartim, termasuk penyediaan kantin dan ruang istirahat yang layak. Hotel juga memperkuat hubungan dengan masyarakat sekitar melalui pemanfaatan hasil pertanian lokal, seperti sayuran, buah-buahan, bunga telang, jahe, kunyit, dan minyak kelapa tradisional Bali, untuk kebutuhan kuliner dan perawatan spa.

Kemitraan semacam ini membuka ruang agar manfaat ekonomi pariwisata tidak hanya terkonsentrasi pada perusahaan besar. Ketika tingkat hunian hotel meningkat, permintaan terhadap produk petani dan pelaku usaha kecil di sekitar kawasan turut bertambah, sehingga masyarakat lokal dapat berperan sebagai bagian dari rantai pasok sekaligus penerima manfaat langsung dari pertumbuhan industri.

Sementara itu, unsur palemahan diterapkan melalui berbagai langkah pengurangan dampak lingkungan, mulai dari penggantian produk plastik sekali pakai dengan alternatif yang dapat digunakan kembali, penggunaan lampu LED dan teknologi sensor untuk efisiensi energi, hingga pemanfaatan air limbah olahan untuk menyiram tanaman.

Sampah organik dan nonorganik dikelola secara terpisah, dengan sampah nonorganik disalurkan kepada mitra pengelola yang memenuhi standar perusahaan. Hotel turut melibatkan tamu melalui program Green Initiative, yang memberi pilihan menggunakan kembali handuk dan seprai guna menekan konsumsi air, energi, dan bahan pembersih tanpa mengurangi kenyamanan pengunjung.

Pelibatan wisatawan menjadi bagian penting dari upaya keberlanjutan ini, sebab tamu bukan sekadar pengguna fasilitas, melainkan pihak yang turut menentukan seberapa besar tekanan yang diterima destinasi. Pilihan sederhana seperti mengurangi plastik dan menghormati budaya setempat dapat memberikan dampak signifikan apabila dilakukan secara kolektif.

Komitmen ini sejalan dengan kerangka Serve 360 milik Marriott International, yang menempatkan pengelolaan energi dan air, pengurangan limbah dan emisi karbon, penggunaan energi terbarukan, serta pengadaan yang bertanggung jawab sebagai bagian dari strategi bisnis global perusahaan.

Langkah ini turut menunjukkan bahwa investasi hijau tidak selalu menjadi beban tambahan. Penghematan energi dan air, pemakaian kembali perlengkapan, serta pengelolaan sampah yang lebih tertib dapat menekan biaya operasional dalam jangka panjang, sekaligus memperkuat reputasi hotel di mata wisatawan yang kini semakin mempertimbangkan nilai keberlanjutan dalam memilih akomodasi.

Komitmen tersebut juga dibuktikan melalui sertifikasi Green Key dan pengakuan dalam lingkup ASEAN Green Hotel yang telah diperoleh Sthala Ubud. Penilaian eksternal ini penting agar klaim ramah lingkungan tidak berhenti sebagai materi pemasaran, melainkan didukung audit, dokumentasi, dan evaluasi berkala yang mencegah praktik greenwashing.

Guru besar yang pernah memimpin UNESCO Office Jakarta, Shahbaz Khan, menilai bahwa prinsip dasar Tri Hita Karana memiliki keselarasan kuat dengan tujuan pembangunan berkelanjutan global. Ia menyebut keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas dapat menjadi fondasi pengembangan pariwisata yang tetap menjaga warisan budaya sekaligus meningkatkan kapasitas ekonomi masyarakat lokal.

Langkah yang ditempuh Sthala Ubud memperlihatkan bahwa nilai lokal dan standar pengelolaan hotel internasional dapat berjalan beriringan. Teknologi efisiensi energi dapat diterapkan tanpa meninggalkan tradisi, pertumbuhan bisnis dapat berlangsung sambil membuka pasar bagi produk masyarakat, dan kenyamanan wisatawan tetap terjaga bersamaan dengan upaya menekan tekanan terhadap lingkungan.

Pariwisata Bali membutuhkan lebih banyak praktik yang menjadikan budaya dan alam sebagai dasar pengambilan keputusan, bukan semata komoditas yang diperjualbelikan. Ketika parahyangan, pawongan, dan palemahan dijalankan secara konsisten, pertumbuhan industri tidak perlu dibayar dengan kerusakan lingkungan atau tersisihnya masyarakat lokal, dan langkah Sthala Ubud menjadi bukti bahwa keberhasilan bisnis serta kelestarian budaya dapat tumbuh bersama tanpa saling mengorbankan.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *