RBN || Jakarta
Hari Kanker Paru Sedunia atau World Lung Cancer Day diperingati setiap 1 Agustus. Peringatan ini menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kanker paru yang dikenal sebagai salah satu penyakit dengan angka kematian tinggi di dunia.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan masyarakat agar lebih peduli terhadap kesehatan paru, terutama dengan mengenali gejala dan faktor risiko serta melakukan pemeriksaan sedini mungkin.
Kanker paru terjadi ketika sel-sel di jaringan paru tumbuh secara tidak terkendali dan membentuk tumor. Dalam kondisi tertentu, sel kanker dapat menyebar ke organ tubuh lainnya sehingga penanganannya menjadi lebih kompleks.
Salah satu persoalan utama dalam menghadapi kanker paru adalah gejala pada tahap awal yang sering kali tidak khas. Kondisi tersebut membuat sebagian pasien baru mengetahui penyakitnya ketika sudah memasuki stadium lanjut.
Karena itu, Kemenkes meminta masyarakat tidak menunda pemeriksaan apabila mengalami keluhan yang berlangsung lama atau semakin berat.
“Jangan tunda untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika keluhan berlangsung lebih dari dua minggu atau semakin memburuk. Semakin dini kanker paru terdeteksi, semakin besar peluang mendapatkan penanganan yang tepat,” tulis Kemenkes melalui akun Instagram resminya, Sabtu (1/8/2026).
Sejumlah gejala yang perlu diperhatikan antara lain batuk yang tidak kunjung sembuh, batuk berdarah, sesak napas, nyeri dada, suara serak, hingga munculnya pembengkakan atau benjolan di leher.
Penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas juga menjadi salah satu tanda yang perlu diperhatikan. Meski demikian, gejala-gejala tersebut tidak selalu berarti seseorang mengalami kanker paru.
Masyarakat tetap dianjurkan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan yang tepat, terutama jika keluhan berlangsung lebih dari dua minggu atau kondisinya semakin memburuk.
Selain mengenali gejala, upaya menjaga kesehatan paru juga dapat dilakukan dengan menerapkan pola hidup sehat dan memahami berbagai faktor risiko kanker paru. Deteksi lebih awal menjadi salah satu langkah penting agar penanganan dapat dilakukan sesuai kondisi pasien.
Sumber: Tribunnews











