Rel Kereta Sumbar Jadi Bagian Penting Rencana Konektivitas Sumatera, Layani Lebih dari 913 Ribu Penumpang
RBN || Padang
Jaringan kereta api di Sumatera Barat tidak hanya menjadi saksi perjalanan sejarah tambang batu bara Ombilin dan aktivitas Pelabuhan Teluk Bayur, tetapi juga terus berperan sebagai sarana transportasi penting bagi masyarakat. Kini, keberadaan rel kereta di provinsi tersebut mendapat perhatian dalam rencana besar penguatan konektivitas perkeretaapian di Pulau Sumatera.
Pemerintah, melalui arahan Presiden Prabowo Subianto, mendorong pengembangan jaringan kereta api yang terintegrasi dari Banda Aceh hingga Bandar Lampung. Dalam skema tersebut, Sumatera Barat dinilai memiliki posisi strategis karena didukung sejarah panjang perkeretaapian, aset prasarana yang luas, dan layanan yang masih aktif melayani masyarakat.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, mengatakan Sumatera Barat mmiliki peran penting dalam perkembangan perkeretaapian nasional.
“Sumatera Barat menunjukkan bagaimana kereta api sejak awal menjadi penghubung ekonomi, kota, pelabuhan, dan masyarakat. Jejak itu tetap relevan untuk membaca kebutuhan konektivitas Sumatra hari ini,” ujar Anne, Jumat (19/6/2026).
Menurut Anne, jalur kereta api di Sumatera Barat awalnya dibangun untuk menghubungkan kawasan tambang, pelabuhan, dan pusat-pusat ekonomi. Seiring waktu, fungsi tersebut berkembang menjadi sarana mobilitas masyarakat, akses menuju destinasi wisata, hingga distribusi logistik.
Berdasarkan data Divre II Sumatera Barat, total panjang jalur kereta api di wilayah itu mencapai 312,232 kilometer spoor (kmsp). Dari jumlah tersebut, sekitar 110,910 kilometer masih aktif beroperasi, sedangkan 201,322 kilometer lainnya berstatus nonaktif.
Selain itu, Sumatera Barat memiliki 20 stasiun dan shelter penumpang serta empat stasiun yang melayani angkutan barang.
Saat ini, sejumlah layanan kereta api masih beroperasi dan menjadi andalan masyarakat. Di antaranya KA Pariaman Ekspres yang melayani rute Pauh Lima–Padang–Naras, KA Minangkabau Ekspres rute Pulau Air–Padang–Bandara Internasional Minangkabau, serta KA Lembah Anai yang menghubungkan Kayu Tanam, Duku, dan Padang.
Sementara itu, untuk sektor pariwisata, terdapat KA wisata Mak Itam yang melayani perjalanan Muarokalaban–Sawahlunto dengan konsep wisata sejarah. Di sektor logistik, layanan kereta barang masih digunakan untuk mendukung distribusi semen curah dan klinker pada rute Indarung–Bukit Putus.
Tingginya minat masyarakat terhadap moda transportasi ini tercermin dari jumlah penumpang yang terus meningkat. Selama periode Januari hingga Mei 2026, layanan kereta api penumpang Divre II Sumatera Barat telah melayani 913.674 pelanggan.
Jumlah tersebut terdiri atas 172.548 pelanggan pada Januari, 151.768 pelanggan pada Februari, 188.425 pelanggan pada Maret, 202.282 pelanggan pada April, dan 198.651 pelanggan pada Mei.
Dengan sejarah panjang dan tingkat penggunaan yang masih tinggi, jaringan rel di Sumatera Barat dinilai memiliki peran penting dalam mendukung visi penguatan konektivitas kereta api di Pulau Sumatera sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi dan mobilitas masyarakat di masa mendatang.
Sumber: Liputan6
