Viral Turis Malaysia Dituding Kabur Tak Bayar di RM Pagi Sore PIK, Restoran Akhirnya Minta Maaf

  • Share
Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

RBN || Jakarta

Sebuah video dan unggahan mengenai turis asal Malaysia yang dituding tidak membayar tagihan makan di Rumah Makan Pagi Sore cabang Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara, viral di media sosial. Namun belakangan, tuduhan tersebut dipastikan tidak benar setelah pelanggan menunjukkan bukti pembayaran yang sah.

Turis bernama Norain Mohd Yunus mengaku sempat panik setelah dirinya dan rombongan disebut kabur tanpa membayar tagihan makan senilai Rp907.500. Pihak restoran kemudian mengakui terjadi kesalahan pencatatan internal dan menyampaikan permintaan maaf secara resmi.

“Kami dari Restoran Pagi Sore menyampaikan permohonan maaf atas kesalahpahaman yang terjadi terkait tamu travel yang makan di restoran kami,” demikian pernyataan manajemen restoran yang dikutip dari Kompas.com, Selasa (19/5/2026).

Manajemen restoran menjelaskan insiden itu murni akibat miskomunikasi internal dan tidak ada unsur kesengajaan untuk menyudutkan pelanggan. Mereka berharap persoalan tersebut dapat diselesaikan secara baik-baik.

Peristiwa ini bermula saat Norain bersama rombongannya makan siang di RM Pagi Sore cabang PIK pada Rabu (13/5/2026). Mereka memesan sembilan jenis lauk dengan total tagihan lebih dari Rp900 ribu sebelum melanjutkan perjalanan ke Bandung menggunakan kereta cepat Whoosh.

Masalah muncul tiga hari kemudian ketika Norain hendak kembali ke Malaysia usai perjalanan wisata dari Bandung menuju Jakarta. Saat akan meninggalkan hotel, sopir travel yang mendampingi rombongan tiba-tiba menanyakan bukti pembayaran makan di restoran tersebut.

“16 Mei saat kami ingin keluar dari hotel, tiba-tiba sopir travel bertanya, mana struk makan di Pagi Sore. Dia billing, manajemen Pagi Sore sudah memviralkan kami karena tidak membayar makanan saat itu,” tulis Norain melalui akun Threads pribadinya, @ainmyunus, Sabtu (16/5/2026).

Mendapat tudingan tersebut, Norain dan rombongan langsung mencari bukti pembayaran di seluruh barang bawaan mereka. Beruntung, selain memiliki catatan transaksi digital melalui kartu debit, mereka juga menemukan nota fisik pembayaran.

“Setelah menggeledah tas, kami menemukan struknya. Bayangkan jika kami membayar tunai dan tidak menemukan struknya. Benar-benar tidak ada bukti sama sekali,” tulis Norain.

Setelah bukti pembayaran ditunjukkan, pihak restoran akhirnya mengakui adanya kekeliruan dalam sistem pencatatan transaksi. Permohonan maaf resmi kemudian disampaikan kepada Norain melalui agen perjalanan yang membawa rombongan wisatawan tersebut.

Sumber: Tribunnews

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *