73.651 Warga Palestina Tewas di Gaza, 815 Jasad Berhasil Dievakuasi dari Reruntuhan
RBN || Gaza
Jumlah warga Palestina yang meninggal akibat agresi Israel di Jalur Gaza terus meningkat meski gencatan senjata telah diberlakukan. Otoritas kesehatan Gaza melaporkan, total korban tewas sejak 7 Oktober 2023 hingga Sabtu (5/9/2026) telah mencapai 73.651 orang, sementara 174.575 orang lainnya mengalami luka-luka.
Dalam 48 jam terakhir, sejumlah rumah sakit di Gaza kembali menerima 17 jasad korban. Rinciannya, lima orang dilaporkan baru meninggal dunia, satu korban meninggal akibat luka yang diderita, sedangkan 11 jasad lainnya ditemukan dan dievakuasi dari bawah reruntuhan bangunan.
Selain korban meninggal, sebanyak 27 warga Palestina dilaporkan terluka dalam periode tersebut, sebagaimana dilaporkan WAFA.
Otoritas kesehatan Gaza menyebut pertambahan angka korban tidak hanya berasal dari serangan terbaru. Proses pencarian dan pendataan korban yang sebelumnya terhambat juga membuat sejumlah nama baru dimasukkan ke dalam catatan resmi.
Sebanyak 160 korban tewas baru ditambahkan ke dalam data kumulatif setelah proses pendataan dan verifikasi sepanjang Agustus selesai dilakukan.
Sementara itu, sejak gencatan senjata mulai diberlakukan pada 11 Oktober 2025, tercatat 1.344 warga Palestina tewas dan 4.464 lainnya terluka.
Tim penyelamat juga telah berhasil mengevakuasi 815 jasad dari berbagai lokasi di Jalur Gaza sejak gencatan senjata berlangsung. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak konflik masih terus dirasakan masyarakat meski intensitas pertempuran telah memasuki fase gencatan senjata.
Otoritas kesehatan Gaza menyatakan masih terdapat korban yang belum ditemukan. Sebagian korban diyakini masih tertimbun di bawah reruntuhan bangunan, sementara sebagian lainnya berada di sejumlah ruas jalan yang sulit dijangkau.
Upaya pencarian dan evakuasi pun menghadapi berbagai kendala. Tim ambulans dan petugas penyelamat masih kesulitan mencapai beberapa wilayah terdampak akibat kondisi lapangan yang rusak serta akses menuju lokasi yang belum sepenuhnya terbuka.
Situasi tersebut membuat proses penyelamatan dan pendataan korban berjalan lambat, sehingga jumlah korban yang tercatat secara resmi masih berpotensi berubah seiring ditemukannya jasad dan selesainya proses verifikasi.
Sumber: Inilah.com

