Toleransi Diuji Saat Kita Berhadapan dengan Orang yang Berbeda
RBN || Jakarta
Coba ingat suasana meja makan keluarga besar saat hari raya atau acara kumpul-kumpul. Ada yang gemar pedas, ada yang tak tahan sambal. Ada yang bercerita panjang, ada yang lebih suka diam. Selama obrolan ringan, semua tampak rukun. Namun begitu seseorang melontarkan pendapat yang berseberangan, suasana bisa berubah dalam sekejap. Hal yang sama sering terjadi di grup percakapan keluarga atau ruang kerja. Satu pendapat yang berbeda cukup untuk membuat percakapan memanas.
Ketika keinginan memenangkan perdebatan mengalahkan kemauan mendengarkan, hubungan yang semula akrab berisiko renggang. Kalimat yang tadinya membahas gagasan berubah menjadi serangan pribadi. Orang yang berbeda tidak lagi dipandang sebagai lawan bicara, melainkan sebagai lawan. Di titik inilah toleransi menemukan ujian sesungguhnya. Bersikap ramah kepada orang yang sepaham itu mudah. Yang menentukan adalah cara kita memperlakukan orang yang tidak sependapat.
Lalu bagaimana toleransi dilatih? Psikolog sosial Gordon Allport menjelaskan bahwa kontak antarkelompok dapat membantu mengurangi prasangka bila berlangsung dalam kondisi yang mendukung. Dalam kerangka pemikirannya, kondisi pentingnya meliputi kesetaraan kedudukan, tujuan bersama, kerja sama, dan dukungan institusi. Artinya, sekadar mempertemukan orang yang berbeda belum tentu cukup. Pertemuan itu perlu dirancang agar semua pihak merasa setara dan punya sesuatu yang dikerjakan bersama.
Prinsip ini bisa diterapkan dalam kegiatan sekolah, proyek kantor, atau kerja bakti di lingkungan tempat tinggal yang melibatkan peserta dari beragam latar belakang. Pembagian peran yang adil memberi kesempatan kepada setiap orang untuk berkontribusi. Dari pengalaman bekerja bersama, orang saling mengenal bukan lewat label, melainkan lewat tindakan. Prasangka yang tadinya terasa kuat pun perlahan menipis ketika kita melihat orang lain sebagai rekan, bukan sebagai kategori.
Dalam percakapan sehari-hari, langkahnya bisa dimulai dari hal sederhana. Dengarkan sampai tuntas sebelum menanggapi, dan mintalah penjelasan sebelum menarik kesimpulan. Kita tetap boleh mengkritik, bahkan dengan tegas, asalkan yang diuji adalah gagasan atau tindakannya, bukan pribadinya. Hindari penghinaan terhadap agama, asal-usul, maupun identitas pribadi, sebab begitu serangan berpindah ke sana, diskusi berhenti menjadi pencarian jawaban dan berubah menjadi pelampiasan.
Di media sosial, sikap serupa berarti membaca konteks secara utuh dan memeriksa informasi sebelum membagikannya. Cuplikan yang terpotong sering memancing kemarahan yang sebenarnya tidak perlu. Namun toleransi juga punya batas yang jelas. Ketika muncul perundungan, diskriminasi, atau ancaman, keberanian menyampaikan keberatan dan melaporkan pelanggaran adalah bagian dari tanggung jawab menjaga ruang bersama.
Kerukunan tidak terjadi dengan sendirinya. Ia perlu dirawat lewat kebiasaan yang memberi setiap orang kesempatan setara untuk berbicara, didengar, dan berpartisipasi. Mulailah dari lingkaran terdekat seperti ubah perbedaan menjadi bahan dialog, jaga ketegasan tanpa merendahkan, dan bela martabat manusia dalam setiap interaksi. Jika meja makan keluarga saja bisa menampung selera yang beraneka ragam, ruang bersama yang lebih luas pun semestinya bisa.


