Stimulus Beijing Belum Angkat Pasar, Saham China Catat Kuartal Terburuk sejak 2022
RBN || Beijing
Pasar saham China masih tertekan meski pemerintah Beijing kembali mengeluarkan sejumlah kebijakan untuk menopang perekonomian. Indeks CSI 300 naik 0,3% pada penutupan perdagangan Rabu (30/9/2026), tetapi masih berada di dekat level terendah dalam satu tahun.
Secara kuartalan, kinerja pasar saham China mencatat penurunan cukup tajam. Indeks CSI 300 turun 12,5% sepanjang kuartal III 2026, menjadi penurunan kuartalan terbesar sejak periode puncak kebijakan lockdown akibat pandemi COVID-19 pada 2022. Sementara itu, Shanghai Composite turun 6,1%, penurunan kuartalan terbesar dalam empat tahun.
Tekanan pasar terjadi di tengah pemulihan ekonomi China yang belum merata. Aktivitas manufaktur dan ekspor masih menunjukkan kekuatan, tetapi permintaan domestik melemah. Koreksi saham teknologi yang sebelumnya mengalami kenaikan tajam turut menekan kinerja pasar.
Pemerintah China pada Selasa mengumumkan sejumlah kebijakan, termasuk dukungan kredit, pemangkasan suku bunga fasilitas pinjaman tambahan menjadi 1,5%, peningkatan kuota pinjaman ulang untuk perusahaan teknologi dan usaha kecil, serta subsidi hipotek bagi pembeli rumah pertama yang memenuhi syarat.
Sejumlah ekonom menilai kebijakan tersebut dapat membantu menopang pertumbuhan ekonomi, tetapi belum cukup untuk meningkatkan kepercayaan investor. Kepala Ekonom China Pantheon Macroeconomics Duncan Wrigley menyebut paket terbaru tersebut merupakan dukungan paling luas dalam dua tahun terakhir, meski skalanya masih lebih kecil dibandingkan stimulus besar pada September 2024.
Ketua Shenzhen Dragon Pacific Capital Management Charles Wang juga menilai langkah pemerintah berada di jalur yang tepat, tetapi stimulus yang diberikan belum menunjukkan dampak kuat terhadap sektor properti dan konsumsi. Kondisi tersebut membuat pasar saham China masih menghadapi tekanan meski pemerintah telah memberikan sejumlah dukungan ekonomi.
Sumber: Kompas.com


