Situasi Tak Selalu Bisa Dikendalikan, tetapi Kita Bisa Memilih Cara Menghadapinya

RBN || Jakarta

Banyak orang menghabiskan energi untuk mengubah hal-hal yang sebenarnya berada di luar jangkauannya, seperti sikap orang lain, keputusan atasan, atau keadaan ekonomi yang bergerak tanpa bisa diprediksi. Ketika usaha itu tidak membuahkan hasil, muncul rasa lelah dan kecewa yang sesungguhnya bisa dihindari sejak awal, seandainya energi tersebut diarahkan pada hal yang benar-benar bisa dikendalikan, yaitu cara diri sendiri merespons keadaan.

Psikolog Julian Rotter memperkenalkan konsep locus of control, yaitu keyakinan seseorang tentang sumber kendali atas hidupnya. Sebagian orang cenderung meyakini bahwa nasib mereka ditentukan oleh faktor eksternal seperti keberuntungan, orang lain, atau takdir. Sebagian lain meyakini bahwa hasil hidup mereka lebih banyak dipengaruhi oleh usaha dan pilihan yang mereka ambil sendiri. Rotter menemukan bahwa individu dengan kecenderungan kendali internal umumnya lebih tangguh menghadapi tekanan, karena mereka memusatkan perhatian pada apa yang bisa diperbaiki, bukan pada apa yang tidak bisa diubah.

Kecenderungan ini bukan bakat bawaan yang tetap, melainkan pola pikir yang bisa dilatih. Seseorang bisa saja tumbuh dengan kebiasaan menyalahkan keadaan atas setiap kegagalan yang ia alami, tetapi kebiasaan itu dapat digeser secara bertahap dengan mulai bertanya pada diri sendiri, bagian mana dari situasi ini yang sebenarnya masih bisa saya pengaruhi. Pertanyaan sederhana ini membuka ruang bagi tindakan, alih-alih membiarkan diri terjebak dalam perasaan tidak berdaya.

Contoh yang paling mudah ditemui adalah kemacetan lalu lintas. Tidak ada seorang pun yang dapat mengendalikan volume kendaraan di jalan, cuaca yang tiba-tiba berubah, atau kebijakan penutupan jalan yang diumumkan mendadak. Namun, seseorang tetap dapat memilih untuk berangkat lebih awal, mendengarkan sesuatu yang bermanfaat selama perjalanan, atau menjaga ketenangan alih-alih memaki keadaan yang memang tidak dapat ia ubah. Pilihan-pilihan kecil semacam ini yang menentukan apakah satu jam di jalan terasa sebagai siksaan atau sekadar bagian biasa dari hari.

Hal yang sama berlaku pada situasi yang jauh lebih berat, seperti kehilangan pekerjaan, hubungan yang berakhir, atau diagnosis kesehatan yang tidak diharapkan. Seseorang tidak dapat memutar waktu untuk membatalkan kejadian tersebut, tetapi ia tetap memiliki ruang untuk memutuskan bagaimana ia akan menjalani hari-hari setelahnya, apakah dengan terus larut dalam penyesalan atau mulai menyusun langkah pemulihan, sekecil apa pun langkah itu pada mulanya.

Memilih cara menghadapi keadaan bukan berarti menutup mata terhadap rasa sakit atau berpura-pura baik-baik saja. Mengakui bahwa suatu situasi memang berat adalah langkah yang jujur dan perlu. Yang membedakan adalah, setelah pengakuan itu, seseorang tidak berhenti pada keluhan semata, melainkan mulai mencari satu atau dua hal kecil yang masih berada dalam kendalinya, entah itu mengatur ulang jadwal, mencari informasi baru, atau meminta bantuan dari orang yang tepat.

Lingkungan sekitar turut membentuk kecenderungan ini. Anak-anak yang tumbuh melihat orang dewasa di sekitarnya selalu menyalahkan keadaan atas setiap masalah akan lebih mudah meniru pola yang sama. Sebaliknya, anak-anak yang melihat orang dewasa tetap mencari solusi di tengah keterbatasan akan belajar bahwa keadaan sulit bukan alasan untuk berhenti bergerak. Keteladanan semacam ini jauh lebih membekas dibandingkan nasihat panjang yang hanya disampaikan lewat kata-kata.

Belajar memilah antara apa yang bisa dikendalikan dan apa yang tidak juga membantu seseorang menjaga energinya agar tidak habis pada hal yang sia-sia. Kekhawatiran terhadap sesuatu yang sepenuhnya berada di luar kendali hanya akan menguras pikiran tanpa menghasilkan perubahan apa pun. Energi yang sama, jika dialihkan pada tindakan nyata yang masih memungkinkan, akan jauh lebih berguna, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang-orang di sekitar.

Kemampuan memilih respons terhadap keadaan inilah yang membedakan seseorang yang mudah runtuh dari seseorang yang tetap dapat berdiri di tengah situasi sulit. Bukan karena ia memiliki hidup yang lebih mudah, melainkan karena ia telah melatih diri untuk berhenti bertanya mengapa hal ini terjadi padaku, dan mulai bertanya apa yang bisa aku lakukan sekarang. Pergeseran cara pandang yang sederhana ini sering kali menjadi titik balik yang menentukan arah hidup seseorang ke depannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *