RBN || Jakarta
Semangat kebangkitan dan pengabdian mewarnai rangkaian syukuran Hari Ulang Tahun ke-58 Prajaniti Hindu Indonesia yang digelar di Pura Adhitya Jaya, Rawamangun, Jakarta, Minggu (21/6). Mengusung tema “Menuju 58 Tahun Prajaniti Hindu Indonesia: Bangkit, Bergerak, dan Menginspirasi dari Pura ke Pura”, kegiatan ini menjadi momentum refleksi sekaligus penguatan arah gerak organisasi dalam menjawab tantangan zaman.
Di bawah koordinasi Ketua Panitia Made Widhi Adnyana dan Heny Herawati, acara menghadirkan Dialog Kepemimpinan dan Bedah Buku Lawar Leadership yang disambut antusias oleh umat Hindu, tokoh masyarakat, akademisi, hingga pemimpin organisasi keagamaan dari berbagai daerah.
Ketua Umum Prajaniti Hindu Indonesia, KS Arsana, dalam sambutannya mengajak seluruh kader untuk memaknai perjalanan organisasi sebagai proses perjuangan yang penuh pembelajaran. Ia menganalogikan perjalanan Prajaniti layaknya Arjuna dalam kisah Mahabharata yang sempat mengalami keraguan dan keterpurukan, namun mampu bangkit menjadi sosok pejuang yang tangguh.
Menurutnya, revitalisasi organisasi yang dimulai pada tahun 2013 telah menjadi titik balik kebangkitan Prajaniti. Kini, organisasi tersebut semakin memantapkan langkah melalui penguatan Gerakan Ekonomi dan Gerakan Pendidikan sebagai pilar utama pemberdayaan umat Hindu di Indonesia.
Sementara itu, keynote speaker Letjen TNI I Nyoman Cantiasa, S.E., M.Tr.(Han.), menegaskan bahwa kepemimpinan yang kuat harus berakar pada budaya dan nilai-nilai dharma. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa pemimpin sejati tidak hanya dituntut memiliki kemampuan manajerial, tetapi juga karakter yang dibangun dari kebijaksanaan lokal dan moralitas yang kokoh.
Ia menyoroti empat pilar utama kepemimpinan berbasis dharma, yakni budaya sebagai kompas, dharma sebagai fondasi, ngayah sebagai bentuk pengabdian tulus, serta visi yang berorientasi pada keberhasilan yang menyeluruh dan berkelanjutan.
Sesi yang tak kalah menarik hadir melalui bedah buku Lawar Leadership karya I Made Arya Amitaba, S.E., M.M. Dalam pemaparannya, Amitaba mengangkat filosofi makanan tradisional Bali, lawar, sebagai metafora kepemimpinan. Beragam bahan yang diracik menjadi satu kesatuan yang harmonis menggambarkan kemampuan seorang pemimpin dalam menyatukan berbagai karakter, potensi, dan perbedaan demi mencapai tujuan bersama.
Pandangan tersebut mendapat apresiasi dari pakar kepemimpinan Lemhannas RI, Mayjen TNI (Purn.) Dr. I Putu Sastra Wingata. Ia mengajak umat Hindu untuk tidak berhenti pada pemahaman konsep, melainkan mengimplementasikan nilai-nilai yang terkandung dalam buku tersebut menjadi perilaku kepemimpinan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Direktur Jenderal Bimas Hindu Kementerian Agama RI Prof. Nengah Duija, Ketua Umum PHDI Pusat Wisnu Bawa Tenaya, serta sejumlah tokoh Hindu nasional lainnya.
Melalui momentum menuju usia ke-58 tahun, Prajaniti Hindu Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus menjadi organisasi yang hadir, bergerak, dan menginspirasi. Dari pura ke pura, dari generasi ke generasi, semangat dharma terus dinyalakan demi mewujudkan umat yang berdaya, berkarakter, dan memberikan manfaat bagi bangsa dan negara.
Reportase: Haikel











