Pembelajaran STEM di Tarakan Ubah Permainan Tradisional Jadi Media Inovasi
RBN || Tarakan
Permainan tradisional di SNT 11 Tarakan tidak hanya menjadi aktivitas rekreatif, tetapi juga dimanfaatkan sebagai media untuk melatih kemampuan siswa menemukan masalah dan menciptakan solusi. Melalui pembelajaran Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM), siswa kelas VII diajak memodifikasi permainan yang dekat dengan kehidupan mereka.
Guru Pendidikan Pancasila SNT 11 Tarakan Valerie Nadya Stien mengatakan penerapan STEM awalnya membuat sebagian siswa bingung. Namun, setelah melalui proses analisis dan perancangan, siswa mulai memahami bahwa STEM dapat diterapkan dengan memanfaatkan peralatan sederhana di sekitar mereka.
Dalam kegiatan tersebut, siswa terlebih dahulu mengidentifikasi kendala pada permainan tradisional sebelum merancang bentuk modifikasinya. Salah satu contohnya muncul pada permainan layang-layang, ketika siswa menemukan persoalan benang yang mudah kusut sehingga muncul gagasan membuat gulungan seperti alat pancing.
Kaila Almira Mariza, siswa kelas VIIA, bersama kelompoknya memilih congklak untuk dikembangkan. Mereka merancang penyangga pada permainan tersebut agar pemain tidak terlalu membungkuk ketika bermain.
Kelompok Muhammad Rizky Pradipta memilih permainan lompat tali dengan gagasan membuat permainan tersebut dapat dimainkan secara bersama-sama dan lebih teratur. Rizky yang semula mengira STEM sulit justru menemukan pengalaman belajar yang menyenangkan setelah mengikuti prosesnya.
Sementara itu, Nabila Queena Tiffany Azzahra bersama kelompoknya memodifikasi petak umpet menjadi permainan “infeksi”. Dalam konsep tersebut, pemain yang ditemukan oleh pencari kemudian bergabung untuk membantu menemukan peserta lain yang masih bersembunyi.
Pengalaman tersebut membuat siswa tidak hanya memahami konsep STEM, tetapi juga belajar bekerja sama, merancang, dan menyelesaikan persoalan secara kreatif. Yahya N Pandita berharap hasil inovasi permainan yang mereka buat nantinya dapat digunakan dan bermanfaat bagi orang lain.
Pembelajaran STEM di SNT 11 Tarakan menunjukkan bahwa penerapan teknologi dan rekayasa tidak selalu membutuhkan perangkat canggih. Permainan tradisional justru menjadi titik awal bagi siswa untuk mengamati persoalan, mengembangkan gagasan, membuat desain, dan menghadirkan inovasi yang lebih sesuai dengan kebutuhan.


