Ledakan AI Ancam Produksi HP Murah

RBN || Jakarta

Pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) mulai membawa dampak ke pasar smartphone, khususnya perangkat dengan harga terjangkau.

Kebutuhan komponen yang semakin besar untuk mendukung infrastruktur AI diperkirakan membuat persediaan sejumlah komponen elektronik menjadi lebih ketat. Kondisi ini berpotensi menekan pasar smartphone murah dalam beberapa tahun mendatang.

Counterpoint Research memperkirakan pengiriman smartphone dengan harga di bawah USD 200 atau sekitar Rp3,58 juta akan mengalami penurunan hingga 40 persen sepanjang periode 2025-2030.

Jika proyeksi tersebut terealisasi, lebih dari 230 juta unit smartphone per tahun berpotensi hilang dari pasar pada akhir periode tersebut.

Analis Counterpoint Research Yang Wang mengatakan, pemulihan pasar smartphone secara keseluruhan tidak serta-merta akan membuat segmen perangkat murah kembali ke kondisi sebelumnya.

“Pasar smartphone akan pulih dari sisi jumlah unit, tetapi segmen terjangkau tidak akan kembali seperti sebelumnya,” ujar Yang Wang, dikutip dari The Register, Senin (28/9/2026).

Salah satu persoalan utama yang dihadapi produsen adalah meningkatnya biaya komponen. Harga memori dan chipset terus mendapat tekanan, sementara standar spesifikasi minimum smartphone juga semakin tinggi.

Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi produsen yang bermain di kelas harga murah. Margin keuntungan yang relatif tipis membuat kenaikan biaya produksi sulit diserap tanpa memengaruhi harga jual maupun spesifikasi perangkat.

Pertumbuhan industri AI menjadi salah satu faktor yang ikut memperketat ketersediaan komponen. Produsen chip kini harus memenuhi permintaan besar untuk membangun infrastruktur AI, sehingga kapasitas produksi yang tersedia untuk perangkat konsumen seperti smartphone menjadi lebih terbatas.

Tekanan paling terasa pada komponen memori, terutama DRAM dan NAND.

Kedua jenis memori tersebut merupakan bagian penting dalam perangkat smartphone. Ketika harganya meningkat, biaya produksi ponsel ikut terdorong naik.

Bagi produsen smartphone murah, kondisi ini menjadi persoalan serius karena ruang untuk menaikkan harga relatif terbatas. Pada saat yang sama, konsumen di segmen tersebut cenderung sangat sensitif terhadap perubahan harga.

Dengan kombinasi kenaikan harga komponen, tuntutan spesifikasi yang semakin tinggi, serta meningkatnya kebutuhan industri AI, pasar smartphone di bawah USD 200 diperkirakan menghadapi perubahan besar hingga 2030.

Pasar smartphone secara keseluruhan memang diproyeksikan tetap memiliki ruang untuk pulih, tetapi segmen harga terjangkau menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan kelas menengah dan premium.

Sumber: Liputan6

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *