Kesetiaan Belum Tentu Loyalitas
RBN || Jakarta
Ada seorang karyawan yang selama belasan tahun tidak pernah sekali pun berpindah perusahaan, selalu hadir tepat waktu, dan tidak pernah menolak perintah atasannya. Di mata banyak orang, ia dianggap sosok paling setia di kantor itu. Namun ketika perusahaan mengambil kebijakan yang jelas-jelas merugikan rekan-rekan kerjanya, ia memilih diam, bukan karena setuju, melainkan karena tidak ingin dianggap membangkang. Ia bertahan bertahun-tahun, tetapi tidak pernah sekali pun mempertaruhkan sesuatu demi nilai yang ia yakini. Ia setia, tetapi belum tentu benar-benar loyal.
Kesetiaan dan loyalitas sering dianggap sebagai kata yang bisa saling menggantikan, padahal keduanya menyimpan perbedaan yang cukup mendasar. Kesetiaan lebih dekat pada perilaku bertahan, tetap berada di satu tempat atau di sisi seseorang dalam jangka waktu lama, tanpa harus melibatkan penilaian aktif tentang benar atau salah. Loyalitas menuntut lebih dari sekadar bertahan. Ia menuntut keberpihakan pada nilai, bukan sekadar keberpihakan pada rutinitas atau rasa nyaman yang sudah terbentuk.
Psikolog dan filsuf Erich Fromm, dalam kajiannya tentang cinta dan keterikatan manusia, membedakan antara keterikatan yang lahir dari ketergantungan dan keterikatan yang lahir dari pilihan sadar untuk peduli pada pertumbuhan orang lain. Menurutnya, banyak relasi yang tampak setia sebenarnya dibangun di atas rasa takut kehilangan, bukan di atas kepedulian yang matang. Seseorang bisa saja terus bertahan dalam sebuah hubungan atau posisi tertentu bukan karena benar-benar meyakini nilainya, melainkan karena tidak sanggup membayangkan hidup tanpa keakraban yang sudah terbentuk selama ini.
Pandangan itu membantu menjelaskan mengapa banyak orang bingung ketika seseorang yang selama ini dianggap setia justru tidak berbuat apa-apa saat dibutuhkan. Seorang teman yang selalu ada untuk sekadar mengobrol dan menghabiskan waktu bersama, tetapi menghilang begitu saja ketika sahabatnya sedang menghadapi masalah berat. Seorang anggota keluarga yang selalu hadir di acara kumpul-kumpul, tetapi tidak pernah benar-benar membela ketika salah satu anggota keluarga lain difitnah atau diperlakukan tidak adil. Kehadiran mereka konsisten, namun keberpihakan mereka kosong.
Kesetiaan tanpa loyalitas biasanya lahir dari kenyamanan yang sudah menjadi kebiasaan. Seseorang bertahan dalam sebuah hubungan pertemanan, pernikahan, atau pekerjaan karena sudah terbiasa dengan pola yang ada, bukan karena masih benar-benar percaya pada nilai yang mendasarinya. Ia enggan pergi bukan karena masih peduli, melainkan karena perubahan terasa lebih menakutkan dibanding bertahan dalam ketidaknyamanan yang sudah dikenal. Kesetiaan semacam ini sering disalahartikan sebagai kebajikan, padahal sesungguhnya lebih dekat pada kepasifan.
Loyalitas sejati justru sering menuntut keberanian untuk tidak setia pada kebiasaan lama demi mempertahankan nilai yang lebih penting. Seorang karyawan yang benar-benar loyal pada timnya mungkin harus berani menentang kebijakan atasan yang dianggapnya keliru, meski risikonya adalah dianggap tidak patuh. Seorang sahabat yang benar-benar loyal mungkin harus berani menegur kesalahan temannya, meski risikonya adalah hubungan menjadi renggang untuk sementara waktu. Loyalitas semacam ini terasa lebih berat dibanding sekadar bertahan, karena ia menuntut keterlibatan aktif, bukan hanya kehadiran pasif.
Perbedaan ini menjadi semakin terlihat ketika seseorang dihadapkan pada situasi yang menguji keduanya sekaligus. Bayangkan seorang anak yang tumbuh dalam keluarga dengan pola asuh yang keliru. Ia bisa memilih tetap setia pada kebiasaan keluarganya, mengulangi pola yang sama tanpa mempertanyakannya, karena itulah yang ia kenal sejak kecil. Atau ia bisa memilih loyal pada nilai kebaikan yang sesungguhnya ia yakini, dengan berani memutus pola tersebut meski harus menghadapi ketidaknyamanan dan bahkan penolakan dari keluarganya sendiri. Kesetiaan pada masa lalu dan loyalitas pada nilai, dalam situasi ini, justru saling berlawanan arah.
Bukan berarti kesetiaan tidak memiliki tempat. Kesetiaan tetap penting sebagai fondasi yang membuat hubungan bertahan melewati masa-masa sulit, selama ia tidak berdiri sendiri tanpa keberpihakan pada kebenaran. Yang perlu diwaspadai adalah ketika kesetiaan dijadikan alasan untuk menghindari tanggung jawab moral, seolah cukup dengan tetap berada di tempat yang sama, seseorang sudah dianggap melakukan cukup banyak hal.
Menilai loyalitas seseorang, termasuk loyalitas diri sendiri, tidak bisa hanya dilihat dari lamanya seseorang bertahan pada suatu hubungan, pekerjaan, atau kelompok. Yang perlu dilihat adalah apakah ia pernah mempertaruhkan sesuatu demi nilai yang diyakininya, ataukah ia hanya terus hadir tanpa pernah benar-benar berpihak pada kebenaran ketika kebenaran itu terasa merepotkan.
Kesetiaan bisa diukur dari waktu yang dihabiskan bersama seseorang atau sesuatu. Loyalitas hanya bisa diukur dari keberanian mempertahankan nilai, terutama pada saat mempertahankannya terasa paling berat dan paling tidak menguntungkan.

