IMF Peringatkan Ekonomi Global Makin Tertekan akibat Lonjakan Harga Minyak

RBN || Jakarta

Ekonomi global menghadapi tekanan akibat kenaikan harga minyak yang dipicu konflik Iran dan gangguan pasokan energi. Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan dampak kenaikan harga energi tersebut terhadap perekonomian dunia belum sepenuhnya terasa.

Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva mengatakan harga minyak yang sempat menembus US$100 per barel berpotensi meningkatkan inflasi sekaligus memperbesar beban pembiayaan negara.

Peringatan tersebut disampaikan Georgieva dalam acara Next 3 Billion di New York. Ia menyebut kenaikan harga energi masih berpotensi berlanjut.

“Winter is coming (musim dingin akan tiba),” ujar Georgieva seperti dilaporkan pada 22 September 2026.

Harga Energi Tekan Inflasi

Menurut Georgieva, konflik yang berkaitan dengan Iran dan gangguan pasokan energi telah meningkatkan tekanan inflasi global sejak Februari.

Kondisi tersebut dapat mendorong bank sentral di berbagai negara mempertahankan atau menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi. Namun, suku bunga yang lebih tinggi juga membuat biaya pinjaman pemerintah meningkat.

Kenaikan beban bunga utang pada akhirnya dapat mempersempit ruang fiskal pemerintah. Kondisi tersebut membuat pemerintah memiliki ruang yang lebih terbatas untuk memberikan stimulus atau meredam dampak ekonomi apabila harga energi kembali melonjak.

Amerika Serikat menjadi salah satu contoh. Negara tersebut diperkirakan mengeluarkan anggaran lebih besar untuk pembayaran bunga utang nasional dibandingkan anggaran militernya pada tahun ini.

Pertumbuhan AI Belum Mampu Redam Guncangan Energi

Georgieva mengatakan perkembangan ekonomi yang didorong oleh kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) memang membantu mengimbangi sebagian dampak kenaikan harga energi.

Namun, pertumbuhan sektor teknologi tersebut dinilai belum cukup untuk mengompensasi seluruh dampak gangguan pasokan energi. Kondisi ini terutama menjadi perhatian apabila gangguan terhadap pengiriman melalui Selat Hormuz terus berlangsung.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur penting dalam perdagangan energi dunia. Gangguan di jalur tersebut dapat memengaruhi distribusi minyak sekaligus meningkatkan tekanan pada pasar energi global.

IMF juga mencermati dampak kenaikan harga energi terhadap sektor riil dan masyarakat. Tekanan biaya hidup yang meningkat dinilai dapat memicu ketidakpuasan masyarakat.

“Kita harus bersiap menghadapi meningkatnya ketidakpuasan masyarakat,” kata Georgieva.

Ia bahkan memperingatkan ketidakpuasan tersebut dapat berkembang menjadi aksi protes di sejumlah negara.

“Mungkin hingga ke aksi protes di jalanan,” lanjutnya.

IMF Pantau Pembiayaan Investasi AI

Selain persoalan energi, IMF juga memantau kebutuhan pembiayaan untuk investasi AI yang terus meningkat.

Georgieva mengatakan IMF sejauh ini belum melihat adanya indikasi bahwa tingginya kebutuhan pembiayaan investasi AI telah mengurangi kemampuan pemerintah di berbagai negara untuk memperoleh pinjaman.

Meski demikian, perkembangan tersebut tetap perlu diperhatikan. Menurut Georgieva, kondisi pembiayaan investasi AI berpotensi menjadi persoalan pada masa mendatang.

“Hal ini bisa saja menjadi masalah di kemudian hari, jadi kita harus terus memantaunya,” ujarnya.

Negara Berkembang Hadapi Tekanan Utang

Tekanan ekonomi juga menjadi perhatian bagi negara-negara berkembang. Sebelumnya, sejumlah negara telah melakukan berbagai upaya untuk memperbaiki kondisi fiskal, menurunkan tingkat utang, serta mempersempit selisih biaya pinjaman atau spread.

Namun, kenaikan suku bunga akibat tekanan inflasi berpotensi mengikis hasil dari upaya tersebut. Biaya pembiayaan yang lebih tinggi dapat meningkatkan beban pembayaran utang sekaligus membatasi kemampuan pemerintah dalam membiayai pembangunan.

Georgieva mengatakan persoalan yang dihadapi negara berkembang tidak hanya berkaitan dengan persaingan mendapatkan sumber pembiayaan. Negara-negara tersebut juga harus menghadapi dampak dari gangguan ekonomi dan kebijakan yang berasal dari negara lain.

“Namun kini, kenaikan suku bunga mengikis pencapaian yang telah diraih dengan susah payah oleh negara-negara berkembang tersebut,” ujar Georgieva.

IMF pun terus memantau perkembangan harga energi, inflasi, kondisi fiskal, serta kebutuhan pembiayaan investasi AI sebagai sejumlah faktor yang dapat memengaruhi perekonomian global ke depan.

Sumber: Kontan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *