Blitar Catat 79 Kasus Kematian Bayi, Dinkes Evaluasi Layanan Persalinan
RBN || Blitar
Angka kematian bayi di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, masih menjadi perhatian serius pemerintah daerah setelah tercatat 79 kasus hingga September 2026. Berat badan lahir rendah (BBLR) dan gangguan pernapasan akibat kekurangan oksigen menjadi dua penyebab yang paling banyak ditemukan.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar terus memperkuat pelayanan kesehatan ibu dan anak untuk menekan risiko kematian bayi. Langkah tersebut dilakukan melalui peningkatan kualitas pemeriksaan, kesiapan tenaga medis, serta evaluasi pelayanan persalinan.
Sub Koordinator Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat Dinkes Kabupaten Blitar, Etti Suryani, menjelaskan bahwa jumlah kematian bayi tahun ini masih bersifat sementara. Pendataan masih berlangsung sehingga angka tersebut berpotensi berubah hingga akhir Desember 2026.
“Kalau yang bayi, sampai September kemarin ada 79. Tahun kemarin sampai akhir tahun itu 93. Jadi, kita belum bisa membandingkan, nanti kira-kira sampai akhir tahun berapa. Mudah-mudahan turun,” ujar Etti Suryani, Jumat (30/10/2026).
Sebagai perbandingan, sepanjang 2025 Kabupaten Blitar mencatat 93 kasus kematian bayi berdasarkan data Dinkes setempat. Namun, perbandingan langsung belum dapat dilakukan karena data 2026 baru mencakup sembilan bulan pertama.
Etti menyebut BBLR menjadi salah satu kondisi yang membutuhkan perhatian khusus karena dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan pada bayi. Kondisi ini terjadi ketika bayi dilahirkan dengan berat badan kurang dari 2.500 gram.
Selain BBLR, asfiksia juga menjadi penyebab yang perlu diwaspadai karena berkaitan dengan kekurangan oksigen saat proses persalinan. Gangguan tersebut dapat menyebabkan bayi mengalami kesulitan bernapas dan membutuhkan pertolongan medis segera.
Untuk mengurangi risiko tersebut, Dinkes Kabupaten Blitar berupaya meningkatkan keterampilan tenaga kesehatan serta memperkuat fasilitas pelayanan ibu dan bayi. Penguatan pelayanan diharapkan membantu penanganan komplikasi sejak masa kehamilan hingga proses persalinan.
Dinkes juga melakukan penelusuran terhadap setiap kasus kematian bayi untuk mengetahui faktor penyebab serta kemungkinan kendala dalam pelayanan kesehatan. Hasil evaluasi tersebut menjadi dasar perbaikan agar kejadian serupa dapat dicegah.
Pemerintah daerah berharap berbagai upaya pencegahan dan peningkatan layanan mampu menekan jumlah kematian bayi hingga akhir tahun. Pemantauan kesehatan selama kehamilan dan kesiapan penanganan persalinan tetap menjadi bagian penting dalam melindungi keselamatan ibu serta bayi.
Sumber: Berita Satu


