BIONS 326: Menjadi Lansia Berkualitas, Sehat, Mandiri, dan Tetap Aktif Bersosialisasi
RBN || Jakarta
Pertumbuhan jumlah penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa dekade mendatang. Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang untuk memastikan para lansia tetap memiliki kualitas hidup yang baik, sehat, mandiri, dan mampu berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.
Dalam tayangan Bincang Online Inspiratif (BIONS) Seri 326, Sabtu (3/10), Dr. Abidinsyah Siregar, MBA., MKes, yang saat ini menjabat sebagai bagian dari Badan Pengurus Pusat Observasi Kesehatan Indonesia (BPP OBKESINDO), mengatakan populasi lansia di Indonesia saat ini telah mencapai sekitar 35 juta jiwa.
Jumlah tersebut diperkirakan meningkat hingga dua kali lipat dalam 20–30 tahun mendatang. Salah satu faktor yang turut memengaruhi perubahan struktur penduduk tersebut adalah semakin banyak generasi muda yang memilih tidak memiliki anak, bahkan sebagian memilih tidak menikah.
Di sisi lain, membaiknya kondisi lingkungan, layanan kesehatan, serta kesejahteraan masyarakat turut mendorong meningkatnya angka harapan hidup.
Menurut Abidinsyah, bertambahnya usia tidak selalu identik dengan menurunnya kualitas hidup. Lansia tetap dapat menjalani kehidupan yang berkualitas selama mampu menjaga kondisi fisik, mental, sosial, dan ekonominya.
“Kualitas pada usia lansia yaitu masih memiliki emosi atau mental yang stabil,” ujar Abidinsyah Siregar.
Ia menjelaskan, terdapat sejumlah aspek yang perlu diperhatikan agar seseorang dapat menjalani masa lansia dengan baik. Selain kondisi fisik yang sehat, kestabilan mental dan emosi juga menjadi bagian penting.
Lansia juga perlu memiliki kemandirian secara ekonomi, tetap merasa bahagia, serta aktif berinteraksi dan bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.
Abidinsyah menekankan bahwa proses penuaan merupakan sesuatu yang alami dan pasti dialami setiap manusia. Namun, cepat atau lambatnya berbagai perubahan yang muncul pada masa tua dapat dipengaruhi oleh bagaimana seseorang menjalani kehidupannya.
Karena itu, lansia tidak seharusnya merasa dirinya sudah tidak berharga atau memilih menarik diri sepenuhnya dari lingkungan sosial. Sikap tersebut justru dapat berdampak terhadap kualitas hidup dan mempercepat penurunan kondisi seseorang.
“Lansia juga harus mempunyai dignity atau harga diri untuk tidak terlalu mengandalkan anak dalam membantu beraktifitas sehari-hari,” jelasnya.
Menurut dia, kemandirian bukan berarti lansia harus melakukan semuanya seorang diri. Namun, selama masih mampu, lansia perlu diberikan ruang untuk mengambil keputusan dan melakukan aktivitas sehari-hari agar tetap memiliki rasa percaya diri serta harga diri.
Dalam perspektif kesehatan masyarakat, kualitas hidup seseorang juga dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Konsep determinan kesehatan Blum menjelaskan bahwa kondisi kesehatan dipengaruhi oleh lingkungan hidup, perilaku, fasilitas atau pelayanan kesehatan, serta pola makan.
Keempat faktor tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan lansia yang sehat dan berkualitas.
Dengan demikian, menghadapi peningkatan jumlah lansia tidak cukup hanya dengan menyediakan layanan kesehatan. Dukungan keluarga, lingkungan yang ramah lansia, kesempatan untuk tetap bersosialisasi, pola hidup sehat, serta kemandirian juga menjadi bagian penting agar para lansia dapat menjalani masa tua secara bermartabat dan tetap produktif.


