BI Jelaskan Alasan Rupiah Bertanda Tangan Purbaya dan Perry Masih Dicetak
RBN || Jakarta
Bank Indonesia (BI) memberikan penjelasan mengenai penerbitan uang rupiah tahun cetak 2026 yang masih memuat tanda tangan mantan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan mantan Gubernur BI Perry Warjiyo.
Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan pencetakan uang dengan tanda tangan pejabat sebelumnya bukan hal yang tidak lazim. Menurut dia, proses tersebut merupakan bagian dari kegiatan rutin BI untuk memastikan kebutuhan uang kartal masyarakat tetap terpenuhi.
Destry menjelaskan, pencetakan uang dilakukan berdasarkan rencana dan tahapan yang telah disusun untuk periode tertentu. Karena itu, penerbitan uang tidak selalu langsung menggunakan tanda tangan pejabat yang sedang menjabat ketika proses pencetakan berlangsung.
“Hari ini terbit yang seri baru, tanda tangan dari Pak Menteri Keuangan yang lama dan Bapak Gubernur juga yang sebelumnya. Jadi hari ini keluar, hari ini atau beberapa hari yang lalu, tapi itu sudah ada. Ada yang minta kolektor?” ujar Destry dalam konferensi pers di Gedung BI, Jakarta, Kamis (24/9).
Ia menegaskan pencetakan rupiah bukan keputusan yang dilakukan secara mendadak. BI menjalankan proses tersebut secara rutin setiap tahun dengan mempertimbangkan proyeksi kebutuhan uang kartal.
Pencetakan juga dilakukan secara bertahap. Artinya, BI tidak mencetak seluruh kebutuhan uang untuk satu periode sekaligus pada awal maupun akhir tahun.
Penjelasan tersebut sejalan dengan informasi resmi BI yang menyebut pencetakan uang rupiah dilakukan berdasarkan rencana cetak dalam periode tertentu, termasuk jumlah nominal dan jumlah lembar uang kertas serta jumlah keping uang logam.
Dengan demikian, masih beredarnya rupiah tahun cetak 2026 dengan tanda tangan Purbaya dan Perry berkaitan dengan tahapan produksi yang telah direncanakan, bukan karena adanya pencetakan ulang secara tiba-tiba.
Sumber: CNN Indonesia


