Belum Bisa Bukan Berarti Tidak Mampu

RBN || Jakarta

Ada perbedaan besar antara mengatakan belum bisa dan menyimpulkan tidak mampu, meski keduanya sering dianggap sama dalam percakapan sehari-hari. Kalimat pertama menunjuk pada kondisi yang masih bisa berubah, sementara kalimat kedua terdengar seperti vonis yang menutup kemungkinan untuk berkembang. Cara seseorang memilih kalimat ini terhadap dirinya sendiri ternyata memengaruhi jauh lebih banyak dari sekadar pilihan kata.

Dalam psikologi, ada bidang yang mempelajari bagaimana seseorang menjelaskan sebab dari keberhasilan dan kegagalannya, yang dikenal sebagai teori atribusi. Psikolog Bernard Weiner, salah satu tokoh penting dalam bidang ini, menjelaskan bahwa penjelasan yang dipilih seseorang atas sebuah kegagalan biasanya bergerak pada tiga dimensi, yaitu apakah penyebabnya berasal dari dalam atau luar diri, apakah sifatnya tetap atau bisa berubah, dan apakah berada dalam kendali atau di luar kendali.

Perbedaan ini menjelaskan mengapa kalimat belum bisa dan tidak mampu memberi dampak psikologis yang berbeda. Ketika seseorang gagal dan berkata saya belum bisa, ia sedang menempatkan penyebab kegagalan pada sesuatu yang bersifat sementara dan dapat berubah melalui usaha, misalnya keterampilan yang belum cukup terlatih. Sebaliknya, ketika seseorang berkata saya memang tidak mampu, ia sedang menempatkan penyebab kegagalan pada sesuatu yang dianggap tetap dan sulit diubah, seolah kemampuan itu sudah ditentukan sejak awal.

Cara menjelaskan kegagalan ini kemudian memengaruhi apa yang dilakukan setelahnya. Seseorang yang meyakini kegagalannya berasal dari sesuatu yang bisa berubah cenderung lebih terdorong mencoba lagi dengan cara yang berbeda. Sementara seseorang yang meyakini kegagalannya berasal dari kekurangan yang menetap cenderung lebih mudah berhenti mencoba, karena merasa usaha tambahan tidak akan mengubah apa pun.

Pola ini terlihat jelas pada anak-anak yang sedang belajar sesuatu yang baru, namun berlaku pula pada orang dewasa dalam berbagai bidang, mulai dari belajar bahasa baru, mengembangkan keterampilan kerja, hingga memperbaiki cara berkomunikasi dalam hubungan. Dua orang yang menghadapi kegagalan yang sama persis bisa mengambil jalan yang sangat berbeda, semata karena cara mereka menjelaskan penyebab kegagalan itu kepada diri sendiri.

Sayangnya, kebiasaan menjelaskan kegagalan sebagai kekurangan yang menetap sering terbentuk sejak kecil, terutama ketika kesalahan lebih sering direspons dengan label daripada penjelasan. Anak yang berulang kali mendengar dirinya memang tidak berbakat pada bidang tertentu, cenderung membawa keyakinan itu hingga dewasa, meski keterampilan sebenarnya bisa dilatih seperti keterampilan lainnya.

Mengubah kebiasaan ini tidak berarti mengabaikan kenyataan bahwa seseorang memiliki keterbatasan tertentu. Bukan berarti semua orang bisa menguasai segala hal jika berusaha cukup keras. Yang perlu diperhatikan adalah kecenderungan untuk terburu-buru menyimpulkan sesuatu sebagai batas permanen, padahal belum benar-benar diuji melalui usaha dan latihan yang memadai.

Ada cara sederhana untuk mempraktikkan pergeseran ini dalam percakapan sehari-hari dengan diri sendiri. Ketika menghadapi kesulitan, mengganti kalimat saya tidak bisa dengan saya belum bisa membuka ruang untuk melanjutkan usaha. Pertanyaan yang mengikuti pun berubah, dari yang semula berhenti pada mengapa saya tidak mampu, menjadi apa yang perlu dipelajari agar bisa menguasainya.

Perubahan kecil dalam cara berbicara kepada diri sendiri ini tidak serta-merta menghilangkan kesulitan yang dihadapi. Namun ia mengubah posisi seseorang di hadapan kesulitan tersebut, dari yang semula merasa terkunci pada keterbatasan, menjadi tetap memiliki ruang untuk berkembang. Kata belum ternyata menyimpan kekuatan yang cukup besar untuk menjaga pintu itu tetap terbuka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *