Batik Disabilitas Surabaya Jadi Ruang Berkarya dan Membangun Kemandirian
RBN || Surabaya
Keterbatasan fisik tidak menghalangi Rofiul Malika menggerakkan canting untuk menghasilkan batik tulis. Bersama sembilan perempuan penyandang disabilitas lainnya, ia telah setahun belajar membatik di Dewi Saraswati Batik, Surabaya, Jawa Timur.
Kemampuan tersebut mereka tunjukkan dalam peringatan Hari Batik Nasional 2026. Dengan penuh antusias, Rofiul dan rekan-rekannya menyambut kunjungan Solidaritas Perempuan untuk Indonesia (SERUNI) Kabinet Merah Putih ke galeri tempat mereka berkarya pada Rabu (7/10/2026).
“Saya senang sekali, tapi juga deg-degan karena mau dikunjungi ibu-ibu SERUNI,” kata Rofiul.
Dalam kunjungan tersebut, rombongan SERUNI menyerahkan bantuan Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI) dari Kementerian Sosial berupa kursi roda kepada Rofiul dan Ketua Umum Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Provinsi Jawa Timur Soelistyowati. Mereka juga menerima bantuan kewirausahaan berupa kain, canting, malam, pewarna, dan berbagai perlengkapan membatik dengan total nilai Rp82.760.000.
Bantuan tersebut diharapkan memperkuat kegiatan usaha para pembatik disabilitas sekaligus membantu mereka mengembangkan keterampilan menjadi sumber penghasilan. Rombongan kemudian melihat langsung tahapan pembuatan batik, mulai dari menggambar motif, mencanting, pelorotan hingga proses pewarnaan.
Kunjungan berlanjut ke Kampung Batik Okra di Kranggan, Surabaya, yang memberdayakan masyarakat melalui produksi batik bermotif tanaman okra. Produk yang dibuat warga telah dipasarkan ke berbagai daerah, bahkan ke luar negeri, dengan setiap motif diproduksi hanya dalam satu lembar.
Rangkaian peringatan Hari Batik Nasional kemudian mencapai puncaknya di Monumen Kapal Selam Surabaya melalui acara bertema “Batik Berlayar”. Ketua Umum Yayasan Batik Indonesia Gita Gilangkencana menegaskan bahwa pelestarian batik bukan berarti mempertahankannya sebagai peninggalan masa lalu, melainkan memastikan batik terus berkembang dan memiliki masa depan.
Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menilai peringatan tersebut menjadi bentuk penghargaan bagi para pembatik dari berbagai daerah. Ketua Bidang Usaha Baru Dekranas Metty Herindra juga mengajak seluruh pihak memperkuat kolaborasi agar batik tetap menjadi identitas bangsa sekaligus membuka peluang kesejahteraan bagi seniman dan perajinnya.


