Pakar Nilai Pidato Trump soal Serangan ke Iran Cerminkan Keputusasaan Politik
RBN || Jakarta
Pidato terbaru Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terkait serangan bersama AS dan Israel terhadap Iran menuai sorotan tajam. Sejumlah pengamat menilai pernyataan tersebut justru menunjukkan tekanan politik yang tengah dihadapi Gedung Putih.
Wakil Presiden Eksekutif Quincy Institute for Responsible Statecraft, Trita Parsi, menyebut Trump terlihat kesulitan membangun legitimasi publik atas operasi militer tersebut.
“Sangat jelas bahwa Trump mengalami kesulitan besar dalam menemukan pembenaran untuk perang, pilihan yang telah ia mulai,” ujar Parsi kepada Al Jazeera, Minggu (1/3).
Menurut Parsi, apabila konflik AS–Israel melawan Iran berlanjut lebih dari satu hingga dua pekan, dampaknya bisa menjadi bencana politik bagi Trump. Ia menilai upaya pembenaran yang terus berubah menunjukkan tekanan besar dari dalam negeri.
Trump sebelumnya mengatakan kepada Daily Mail bahwa konflik dengan Iran bisa berlangsung hingga empat pekan. Di sisi lain, laporan menyebut Washington telah menawarkan opsi gencatan senjata kepada Teheran, namun ditolak.
Parsi menilai penolakan tersebut mencerminkan kalkulasi strategis Iran. “Keinginan Trump untuk segera mengakhiri perang bisa ditafsirkan sebagai kelemahan, dan Iran kemungkinan akan memanfaatkannya,” katanya.
Serangan gabungan AS dan Israel pada Sabtu dilaporkan menghantam berbagai wilayah Iran. Dalam perkembangan yang diumumkan sehari kemudian, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan tewas bersama sejumlah pejabat tinggi militer, termasuk Menteri Pertahanan dan Komandan Korps Garda Revolusi Iran.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan ke sejumlah aset AS dan Israel. Ketegangan di kawasan Timur Tengah pun semakin meningkat, memicu kekhawatiran global atas potensi eskalasi konflik yang lebih luas.
Sumber: CNN Indonesia
