Saat Orang Lain Melaju, Bukan Berarti Langkahmu Tertinggal
RBN || Jakarta
Melihat orang lain lebih dahulu meraih pekerjaan impian atau mencapai tujuan hidup bisa membuat kita merasa tertinggal. Padahal, setiap orang menjalani proses dengan kemampuan, kesempatan, dan tantangan yang berbeda. Ada yang menemukan jalannya lebih cepat, sementara yang lain membutuhkan waktu lebih panjang untuk belajar dan mencoba. Perbedaan waktu tersebut tidak menentukan siapa yang lebih berharga atau lebih layak dihargai.
Perasaan tertinggal sering muncul karena kita membandingkan bagian yang masih berjalan dalam hidup sendiri dengan bagian yang sudah selesai milik orang lain. Kita tahu betapa berat hari-hari yang dilalui, tetapi jarang mengetahui keraguan, hambatan, dan kegagalan yang pernah dihadapi orang lain sebelum tiba di titik itu. Di media sosial, pencapaian orang lain hadir setiap hari melalui foto, cerita, dan berbagai kabar gembira. Namun, unggahan tersebut hanya memperlihatkan sebagian kehidupan, sedangkan kesulitan dan proses di baliknya tidak selalu terlihat.
Tinjauan penelitian oleh Verduyn dan rekan-rekannya pada 2020 menemukan bahwa membandingkan diri dengan orang yang tampak lebih berhasil di media sosial umumnya berkaitan dengan kesejahteraan yang lebih rendah, terutama pada penggunaan pasif, yaitu sekadar melihat tanpa berinteraksi. Meski begitu, tinjauan kritis yang lebih baru oleh Meier dan Johnson pada 2022 menunjukkan bahwa temuan studi terbaru tidak seragam. Dampaknya dapat berbeda pada setiap orang, dan tidak setiap perbandingan berujung negatif.
Keberhasilan orang lain dapat menjadi inspirasi untuk mempelajari keterampilan baru atau mencoba kesempatan berbeda. Namun, menjadikan pencapaian mereka sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan pribadi justru dapat menambah tekanan. Pertanyaan sederhana dapat membantu seperti setelah melihat kabar baik itu, apakah kita terdorong untuk belajar sesuatu, atau justru merasa tidak berharga? Jawabannya menunjukkan apakah perbandingan tersebut menjadi inspirasi atau beban.
Alih-alih terus mengukur diri berdasarkan perjalanan orang lain, cobalah memperhatikan perkembangan yang sudah dicapai. Keberanian memulai, kemampuan menghadapi kesulitan, dan kesediaan belajar dari kesalahan merupakan kemajuan yang layak dihargai. Peneliti psikologi Kristin Neff menjelaskan bahwa welas asih terhadap diri sendiri berarti bersikap suportif ketika menghadapi kesalahan, kekurangan, atau kesulitan. Sikap tersebut juga dapat disertai dorongan dan masukan yang membangun untuk membantu seseorang mencapai tujuan.
Memperlakukan diri dengan lebih baik bukan berarti mengabaikan kekurangan atau berhenti berusaha. Sikap ini memberi ruang untuk mengevaluasi langkah dengan jernih tanpa terus-menerus merendahkan diri. Mulailah dengan menetapkan tujuan yang sesuai dengan kebutuhan dan keadaan saat ini. Catat kemajuan yang telah dicapai, lalu gunakan pengalaman sebelumnya sebagai pijakan untuk melangkah. Perhatikan pula cara kita memakai media sosial. Ketika mulai merasa gelisah setelah menggulir layar, memberi jeda sejenak dapat membantu pikiran kembali pada tujuan sendiri.
Tidak semua impian harus terwujud pada waktu yang sama dengan orang lain. Setiap langkah tetap berarti ketika dijalani dengan kesungguhan dan kesediaan untuk terus belajar.


