Kerukunan Sulit Tumbuh Jika Hanya Sebagian yang Didengar
RBN || Jakarta
Dalam permainan angklung, satu orang hanya memegang satu atau dua nada. Sendirian, nada itu terdengar sederhana, bahkan kurang berarti. Namun ketika puluhan orang memainkan nadanya masing-masing pada saat yang tepat, lahirlah lagu yang utuh. Jika ada satu bagian yang tak diberi kesempatan, lagu itu pincang. Kerukunan bekerja dengan cara yang sama. Ia tidak lahir dari satu suara yang paling keras, melainkan dari banyak suara yang semuanya diberi tempat.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering tanpa sadar hanya mendengar sebagian. Di grup keluarga, pendapat orang yang paling senior atau paling cepat mengetik cenderung mendominasi. Di ruang kerja, ide dari orang yang paling vokal lebih mudah diterima. Sementara mereka yang pendiam, berbeda latar belakang, atau baru bergabung memilih diam karena merasa tak akan diperhatikan. Dari luar suasana tampak tenang. Namun ketenangan itu rapuh, sebab ketidakpuasan yang tak pernah disampaikan biasanya mencari jalan keluarnya sendiri.
Ketika keinginan memenangkan perdebatan mengalahkan kemauan mendengarkan, hubungan yang semula akrab berisiko renggang. Percakapan yang panas karena satu pendapat berseberangan sering berujung pada serangan pribadi. Di sinilah toleransi diuji lewat cara kita memperlakukan orang yang tidak sepaham. Menghargai perbedaan membutuhkan kesediaan mendengarkan alasan, memahami konteks, dan menjaga martabat lawan bicara, tanpa harus menyetujui pendapatnya.
Psikolog sosial Gordon Allport memberi kerangka yang bermanfaat. Menurutnya, kontak antarkelompok dapat membantu mengurangi prasangka bila berlangsung dalam kondisi yang mendukung, yaitu kesetaraan kedudukan, tujuan bersama, kerja sama, dan dukungan institusi. Perhatikan bahwa syarat pertamanya adalah kesetaraan. Selama sebagian orang selalu berbicara dan sebagian lain selalu hanya mendengar, kontak antara mereka belum tentu mengurangi prasangka.
Penerapannya tidak harus rumit. Kegiatan sekolah, proyek kantor, atau kerja bakti yang melibatkan peserta dari beragam latar belakang bisa menjadi wadah yang baik. Kuncinya adalah pembagian peran yang adil, sehingga setiap orang mendapat kesempatan berkontribusi dan mengenal sesama melalui pengalaman bekerja bersama. Orang yang tadinya hanya dikenal lewat label akan dikenal lewat sumbangannya.
Dalam percakapan, mulailah dengan mendengarkan sampai tuntas dan meminta penjelasan sebelum menarik kesimpulan. Kritik tetap boleh disampaikan secara tegas, asalkan yang diuji adalah gagasan atau tindakannya, bukan agama, asal-usul, atau identitas pribadi seseorang. Di media sosial, bacalah konteks secara utuh dan periksa informasi sebelum membagikannya. Bila muncul perundungan, diskriminasi, atau ancaman, keberanian menyampaikan keberatan dan melaporkan pelanggaran adalah bagian dari tanggung jawab menjaga ruang bersama.
Kerukunan perlu dirawat lewat kebiasaan yang memberi setiap orang kesempatan setara untuk berbicara, didengar, dan berpartisipasi. Mulailah dari lingkaran terdekat seperti ubah perbedaan menjadi bahan dialog, jaga ketegasan tanpa merendahkan, dan bela martabat manusia dalam setiap interaksi. Seperti angklung, lagu kebersamaan baru terdengar indah ketika tidak ada satu nada pun yang dibiarkan tertinggal.


