Satu Kegagalan Tak Berhak Menutup Semua Harapan
RBN || Jakarta
Pernahkah Anda melewati jalan yang biasa dilalui, lalu mendapati jalan itu ditutup karena perbaikan? Hampir tidak ada orang yang langsung memutar balik ke rumah dan menyatakan perjalanannya batal. Kebanyakan dari kita mengecek peta, mencari rute lain, lalu melanjutkan perjalanan, meski mungkin sedikit lebih lama. Anehnya, ketika yang tertutup adalah pintu dalam hidup, seperti lamaran kerja yang ditolak, usaha yang tersendat, atau rencana yang mendadak berubah, kita sering lupa bahwa peta itu masih ada.
Kekecewaan setelah gagal adalah hal yang wajar. Ada rasa malu, lelah, dan kadang marah pada keadaan. Perasaan itu tidak perlu ditekan. Namun satu hasil buruk hanyalah satu kejadian pada satu waktu. Ia belum cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh kesempatan sudah tertutup. Ketika sebuah kegagalan dibiarkan mewakili seluruh masa depan, kita sebenarnya sedang menyerahkan hak menilai hidup kepada satu peristiwa saja.
Psikolog Charles Richard Snyder lewat teori harapan menjelaskan bahwa harapan tidak sama dengan sekadar berharap yang baik-baik saja. Menurut Snyder, harapan terdiri dari tiga hal yang saling berkaitan: tujuan yang jelas, kemampuan menemukan jalur untuk mencapainya, dan dorongan untuk benar-benar menempuh jalur tersebut. Dengan kata lain, harapan adalah cara berpikir yang terhubung dengan perencanaan dan tindakan. Keinginan saja belum cukup. Tujuan yang tidak punya jalur hanya akan menjadi angan-angan, sedangkan jalur tanpa dorongan hanya akan menjadi rencana di atas kertas.
Dalam keseharian, rute cadangan itu bisa sangat sederhana. Setelah lamaran ditolak, seseorang dapat memperbaiki surat lamarannya atau meminta masukan dari pihak yang menilai. Setelah usaha tersendat, ia bisa meninjau kembali bagian mana yang masih berjalan dan mana yang perlu diubah. Jika target terasa terlalu besar, ia bisa memecahnya menjadi pekerjaan-pekerjaan kecil yang lebih terjangkau. Langkah-langkah sederhana ini memberi arah pada usaha, sekaligus membantu kita menilai kemajuan dari proses sendiri, tanpa terus-menerus membandingkan diri dengan pencapaian orang lain.
Meski begitu, harapan bukan berarti memaksakan diri tanpa henti. Tidak semua hambatan bisa ditembus hanya dengan tekad, dan hasil yang diinginkan tidak selalu datang sesuai jadwal. Ada saatnya kita perlu beristirahat agar tenaga pulih. Ada saatnya pula kita perlu menerima bantuan dari orang lain, entah berupa saran, kenalan, atau sekadar telinga yang mau mendengar. Beristirahat dan meminta pertolongan bukan tanda kalah, melainkan bagian dari strategi agar perjalanan tidak terhenti di tengah jalan.
Kadang, jalur yang paling masuk akal justru adalah mengubah tujuan. Setelah kebutuhan, sumber daya, dan peluang ditinjau kembali dengan jernih, mungkin kita menyadari bahwa tujuan awal sudah tidak cocok dengan kemampuan atau keadaan yang berubah. Menyesuaikan rencana pada titik itu bukan berarti mengkhianati mimpi. Itu adalah cara agar langkah selanjutnya diambil dengan pertimbangan yang lebih matang, bukan dengan rasa terpaksa.
Jika hari ini terasa seperti semua pintu tertutup, cobalah mengecilkan pertanyaannya. Jangan tanyakan apakah masa depan masih ada. Tanyakan satu langkah apa yang sanggup dilakukan hari ini. Mungkin hanya menulis ulang satu paragraf, mengirim satu pesan, atau tidur lebih cepat. Jangan serahkan penilaian atas seluruh masa depan kepada satu kegagalan yang terjadi hari ini. Cari jalan lain bila diperlukan, dan beri diri kesempatan menemukan kemungkinan yang belum terlihat.


