Terus Menggenggam yang Sudah Pergi Membuatmu Kehilangan Hidup Hari Ini
RBN || Jakarta
Layar ponsel dibuka lagi hanya untuk membaca ulang percakapan lama yang sudah dihafal luar kepala, sementara satu janji yang tak kunjung ditepati masih ditunggu kelanjutannya. Di sela itu, waktu makan siang berlalu begitu saja tanpa benar-benar dirasakan, dan sore hari yang sebenarnya cukup tenang terasa hampa karena pikiran masih tertinggal di masa yang sudah lewat.
Belajar melepaskan bukan berarti berpura-pura semua baik-baik saja, melainkan menerima bahwa sebagian hubungan, pengalaman, atau rencana memang sudah berubah dan tidak bisa dipertahankan seperti semula. Penerimaan semacam ini membuka ruang untuk mulai menentukan langkah berikutnya, tanpa harus menunggu seluruh rasa sedih itu hilang terlebih dahulu.
Merenungkan sebuah kejadian memang bisa membantu seseorang memahami apa yang sebenarnya terjadi, tetapi pikiran yang terus berputar pada hal yang sama tanpa pernah sampai pada penyelesaian justru berubah menjadi beban tersendiri. Pola semacam ini dikenal sebagai ruminasi, yang membuat perhatian seseorang terus-menerus terserap pada persoalan yang sama hingga sulit kembali menjalani aktivitas sehari-hari.
Psikolog Susan David, lewat konsepnya tentang kelincahan emosional atau emotional agility, menekankan pentingnya mengakui emosi apa adanya sembari tetap memilih tindakan yang selaras dengan nilai hidup yang diyakini. Kesedihan perlu dikenali secara jujur agar seseorang bisa meresponsnya dengan sadar, bukan membiarkannya diam-diam mengambil alih setiap keputusan yang diambil.
Langkah awal yang bisa dicoba adalah mengakui kekecewaan yang dirasakan, sembari membedakan mana persoalan yang masih mungkin diperbaiki dan mana keadaan yang sudah berada di luar kendali. Dari titik itu, tenaga yang semula habis untuk memikirkan masa lalu bisa dialihkan untuk membangun rutinitas baru, menuntaskan tanggung jawab yang sempat tertunda, dan merawat hubungan yang saling menghargai.
Dalam keseharian, melepaskan juga bisa berwujud sederhana, misalnya mengurangi kebiasaan memeriksa kabar seseorang berkali-kali dalam sehari, atau berhenti menggantungkan harapan pada janji yang tidak pernah jelas kepastiannya. Menetapkan batas yang tegas membantu menyisakan waktu dan perhatian untuk kebutuhan diri sendiri yang selama ini terabaikan.
Proses melepaskan jarang berjalan mulus dari awal sampai akhir, sebab kenangan bisa muncul kembali dan membawa kesedihan pada saat yang sama sekali tidak diduga. Munculnya perasaan itu bukan tanda bahwa seseorang gagal berproses, melainkan kesempatan untuk kembali mengenali kebutuhan dirinya dan menata ulang langkah yang sedang dijalani.
Pengalaman yang sudah berlalu tetap bisa dijadikan pelajaran berharga tanpa harus membiarkannya menentukan seluruh arah kehidupan ke depan. Setiap orang berhak menyimpan kenangan sekaligus membangun harapan baru yang lebih sesuai dengan kenyataan hari ini, bukan dengan bayang-bayang yang sudah lama berlalu.
Masa lalu sudah mengambil bagiannya sendiri, sementara hari ini masih menyediakan ruang yang cukup luas untuk bertindak. Melonggarkan genggaman pada hal-hal yang terus menyakitkan menjadi langkah yang perlu mulai dicoba, agar hidup kembali memiliki tempat bagi ketenangan, pertumbuhan, dan kemungkinan-kemungkinan baru yang selama ini terlewat begitu saja.


