Terus Merasa Benar, Keangkuhan Membuat Orang Terdekat Menjauh

RBN || Jakarta

Sebuah perbincangan bisa terhenti bukan karena masalahnya sudah selesai, melainkan karena salah satu pihak sudah lelah berhadapan dengan seseorang yang menolak mendengar pendapat lain. Diam dalam situasi seperti ini sering disalahartikan sebagai tanda setuju, padahal bisa jadi itu adalah cara seseorang menghindari perasaan diremehkan untuk kesekian kalinya.

Keangkuhan tampak ketika seseorang menganggap pandangannya selalu lebih bernilai dibandingkan orang lain, mengabaikan gagasan yang berbeda, dan menolak mengakui kesalahan meski bukti sudah jelas terlihat. Bila pola ini terus berulang, hubungan perlahan kehilangan keterbukaan yang sebenarnya dibutuhkan untuk menyelesaikan persoalan bersama.

Kepercayaan diri yang sehat sebenarnya tetap memberi ruang bagi seseorang untuk menyampaikan keyakinannya sekaligus bersedia memeriksa ulang dasar pemikiran itu. Keangkuhan membuat percakapan berubah menjadi semacam perebutan kedudukan, sehingga koreksi yang seharusnya membantu justru diperlakukan sebagai ancaman terhadap harga diri.

Gottman Institute, yang meneliti pola komunikasi dalam hubungan pasangan, menjelaskan bahwa sikap merendahkan dan ejekan menyampaikan pesan superioritas yang perlahan merusak rasa hormat antara kedua belah pihak. Karena itu, ketidaksetujuan sebaiknya disampaikan dengan membahas persoalan secara konkret, bukan dengan menyerang martabat orang yang diajak bicara.

Di lingkungan kerja, bayangkan sebuah rapat ketika usulan seorang anggota tim dipotong sebelum penjelasannya selesai, lalu pertanyaan yang diajukan dibalas dengan nada menyindir. Lama-kelamaan, anggota tim lain mungkin memilih menyimpan sendiri masukan yang sebenarnya berguna, padahal gagasan itu bisa membantu menemukan solusi alternatif atau mengungkap kekeliruan yang belum disadari.

Psikolog Mark Leary dari Duke University menjelaskan konsep kerendahan hati intelektual sebagai kesadaran bahwa keyakinan pribadi bisa saja keliru. Penelitian yang dilakukannya bersama rekan sejawat mengaitkan sikap ini dengan keterbukaan terhadap gagasan yang berbeda, serta kemampuan membedakan argumen yang benar-benar kuat dari argumen yang sebenarnya rapuh.

Keterbukaan semacam itu dapat dilatih melalui kebiasaan sederhana, seperti mendengarkan sampai tuntas sebelum menanggapi, meminta penjelasan lebih lanjut sebelum menyanggah, dan menilai sebuah masukan berdasarkan bukti yang mendukungnya. Ketika memang bersalah, mengakui tindakan beserta dampaknya secara spesifik, lalu melakukan perbaikan yang dapat dirasakan langsung oleh pihak yang dirugikan, jauh lebih berarti dibandingkan sekadar permintaan maaf formal.

Menilai karakter seseorang juga membutuhkan kehati-hatian, sebab satu tanggapan yang ketus belum tentu cukup untuk menggambarkan keseluruhan dirinya. Memperhatikan konteks saat kejadian berlangsung, apakah perilaku itu terus berulang, dan bagaimana kesediaannya berubah setelah menerima masukan yang jelas, jauh lebih adil dibandingkan langsung menjatuhkan penilaian dari satu momen saja.

Pencapaian memang layak dibanggakan, tetapi cara memperlakukan orang-orang di sekitar yang sesungguhnya menentukan apakah keberhasilan itu turut menumbuhkan kepercayaan atau justru merenggangkan hubungan. Memberi ruang untuk mendengar dan mengakui kekeliruan menjadi penting, sebab hubungan jarang bertahan lama ketika hanya satu suara yang selalu menuntut untuk menang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *