Lomba Lari Jalanan Tumbuhkan Industri Olahraga Lari di Indonesia

RBN || Jakarta

Pertumbuhan lomba lari jalanan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir semakin pesat. Perkembangan tersebut tidak hanya meningkatkan minat masyarakat terhadap olahraga lari, tetapi juga mendorong terbentuknya ekosistem industri olahraga yang memberikan dampak ekonomi bagi berbagai sektor.

Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) Tigor Tanjung mengatakan perkembangan lomba lari terlihat dari semakin banyaknya jumlah perlombaan, peserta, hingga meningkatnya kualitas penyelenggaraan.

Menurut Tigor, perkembangan tersebut berlangsung dalam kurun waktu sekitar 10 hingga 15 tahun terakhir. Jenis perlombaan yang digelar juga semakin beragam, mulai dari kategori lari 5 kilometer (5K), 10K, half marathon, hingga maraton.

“Meski belum ada data pasti, seingat saya sejak tahun 1997 saat 10K pertama kali diadakan hingga saat ini, perkembangannya sangat pesat, khususnya 10 tahun terakhir,” kata Tigor saat dihubungi dari Jakarta, Senin (21/9/2026).

Menurutnya, semakin berkembangnya perlombaan lari turut membentuk ekosistem industri olahraga yang melibatkan banyak pihak. Tidak hanya pelari dan penyelenggara, industri ini juga melibatkan sponsor serta berbagai tenaga pendukung yang dibutuhkan dalam pelaksanaan sebuah perlombaan.

Dampak ekonomi dari kegiatan tersebut juga tidak hanya terjadi di lokasi perlombaan. Kehadiran peserta dari berbagai daerah dapat mendorong aktivitas ekonomi di sektor perjalanan, akomodasi, konsumsi, transportasi, hingga berbagai kebutuhan lain yang berkaitan dengan keikutsertaan dalam perlombaan.

Peserta yang datang dari luar daerah, misalnya, membutuhkan tempat menginap, makanan, transportasi, serta berbagai kebutuhan selama berada di kota penyelenggara. Kondisi tersebut membuat kegiatan lomba lari memiliki dampak yang lebih luas dibandingkan sekadar aktivitas olahraga.

Pertumbuhan Masih Didominasi Jawa dan Bali

Tigor menjelaskan perkembangan lomba lari saat ini masih lebih masif terjadi di Pulau Jawa dan Bali dibandingkan sejumlah wilayah lainnya.

Namun, pertumbuhan perlombaan lari juga mulai terlihat di berbagai kota di luar kedua wilayah tersebut. Sejumlah kota di Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan mulai mengembangkan kegiatan serupa.

Beberapa di antaranya adalah Medan, Makassar, dan Banjarmasin.

Menurut Tigor, kesiapan suatu daerah menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan perkembangan lomba lari. Penyelenggara membutuhkan lokasi yang memenuhi berbagai persyaratan, dukungan pendanaan dan sponsor, serta sumber daya manusia yang mampu membantu pelaksanaan perlombaan.

Ketersediaan berbagai sumber daya tersebut membuat sejumlah daerah di Jawa dan Bali lebih siap menyelenggarakan perlombaan lari dalam skala besar.

Meski demikian, Tigor menilai perkembangan lomba lari di luar Jawa dan Bali tetap berjalan secara bertahap dan alamiah seiring dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap olahraga tersebut.

“Sekarang orang lari itu sudah jadi kebutuhan dan budaya, karena sebelumnya mereka pelari rekreasional, tetapi kini sudah menjadi pelari yang serius, terbukti mereka masuk ke komunitas, memakai pelatih, dokter, dan ahli gizi,” ujarnya.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa olahraga lari mulai berkembang dari aktivitas rekreasi menjadi bagian dari gaya hidup. Masyarakat yang sebelumnya hanya berlari untuk menjaga kebugaran kini semakin banyak yang bergabung dengan komunitas dan mendapatkan pendampingan dari pelatih, dokter maupun ahli gizi.

Lari Berkembang Menjadi Sport Tourism

Selain membentuk industri olahraga, perkembangan lomba lari juga mendorong munculnya konsep sport tourism atau pariwisata berbasis olahraga.

Tigor mengatakan peserta lomba lari kini tidak hanya mengikuti perlombaan untuk mengejar target olahraga. Kegiatan tersebut juga dapat menjadi alasan bagi seseorang untuk melakukan perjalanan ke daerah lain sekaligus menikmati destinasi wisata.

Ia menyampaikan hal tersebut berdasarkan informasi yang diperolehnya dalam Global Running Conference yang diselenggarakan World Athletics di Kopenhagen, Denmark, beberapa hari sebelumnya.

Menurut Tigor, peserta lomba lari saat ini dapat menjadikan sebuah perlombaan sebagai bagian dari agenda perjalanan atau liburan. Karena itu, kualitas penyelenggaraan lomba menjadi salah satu daya tarik yang dapat menentukan minat peserta untuk datang.

Daya tarik sebuah perlombaan tidak selalu bergantung pada destinasi wisata yang berada di lokasi penyelenggaraan. Kualitas lomba juga menjadi bagian penting dari pengalaman peserta.

Meski demikian, lokasi penyelenggaraan tetap memiliki peran dalam membentuk pengalaman peserta. Perlombaan dan destinasi wisata kemudian dapat dikemas secara bersamaan sehingga menjadi satu kesatuan dalam konsep sport tourism.

Dengan perkembangan tersebut, lomba lari tidak lagi hanya menjadi kegiatan olahraga. Aktivitas ini juga berkembang menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat sekaligus kegiatan ekonomi yang melibatkan berbagai sektor.

Maybank Marathon Dorong Ekosistem Olahraga

Salah satu ajang yang turut menjadi bagian dari perkembangan industri lari adalah Maybank Marathon.

Presiden Direktur Maybank Indonesia Steffano Ridwan mengatakan pihaknya terus berkomitmen menggabungkan pelaksanaan Maybank Marathon dengan agenda keberlanjutan atau sustainability.

Program tersebut dilakukan melalui berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat, usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), mitra usaha, serta komunitas lokal.

Komitmen tersebut kembali diwujudkan melalui Maybank Marathon Sustainability Day 2026. Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari dan memasuki agenda utama di Sustainability Pavilion, Bali United Training Center (BUTC), Gianyar, Bali, pada akhir Agustus.

Steffano mengatakan Maybank Marathon yang berstatus Elite Label Road Race dari World Athletics telah berlangsung selama 15 tahun dan turut mendorong pertumbuhan industri olahraga lari di Indonesia.

Menurutnya, penyelenggaraan ajang tersebut memberikan manfaat ekonomi bagi wilayah tempat perlombaan digelar.

Dampak tersebut antara lain terlihat dari tingkat hunian hotel, penggunaan transportasi, serta pengeluaran peserta dan keluarga yang datang untuk mengikuti perlombaan maupun menikmati waktu liburan.

Kehadiran peserta dari berbagai daerah membuat kegiatan lomba lari memiliki efek berantai terhadap perekonomian daerah. Peserta tidak hanya berada di lokasi untuk mengikuti perlombaan, tetapi juga membutuhkan berbagai layanan selama berada di daerah penyelenggara.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa industri olahraga lari memiliki hubungan dengan sektor pariwisata dan ekonomi lokal. Semakin banyak perlombaan yang digelar dan semakin banyak peserta yang datang, semakin banyak pula pihak yang terlibat dalam memenuhi kebutuhan kegiatan tersebut.

Pertumbuhan lomba lari di Indonesia pada akhirnya tidak hanya mencerminkan meningkatnya minat masyarakat terhadap olahraga, tetapi juga memperlihatkan terbentuknya ekosistem yang mencakup penyelenggara, sponsor, komunitas, tenaga profesional, UMKM, sektor transportasi, perhotelan hingga pariwisata.

Dengan perkembangan tersebut, lomba lari jalanan menjadi salah satu kegiatan olahraga yang memiliki keterkaitan semakin luas dengan aktivitas ekonomi dan gaya hidup masyarakat di berbagai daerah Indonesia.

Sumber: Antara News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *