Doa Jurnalis Bali untuk Lima Pewarta yang Hilang di Anak Krakatau
RBN || Denpasar
Sejumlah jurnalis di Bali menggelar doa bersama untuk lima pewarta yang masih hilang saat menjalankan tugas meliput aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. Doa tersebut digelar pada hari keenam operasi pencarian dengan harapan seluruh korban segera ditemukan dalam kondisi selamat.
Kegiatan doa bersama itu diinisiasi Pewarta Foto Indonesia (PFI) Denpasar bersama sejumlah organisasi profesi dan kewartawanan di Bali. Beberapa di antaranya yakni Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Bali, Ikatan Wartawan Online (IWO) Bali, Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali, Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Bali, PENA NTT, serta Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali.
Ketua PFI Denpasar Dicky Bisinglasi mengatakan doa bersama dilakukan karena proses pencarian telah memasuki hari keenam. Ia berharap tim SAR segera menemukan titik terang dalam operasi tersebut.
“Karena ini hari keenam, sekiranya operasi SAR tidak diperpanjang, kami semua berharap agar besok pada hari ketujuh bisa ditemukan atau ada hasil yang lebih baik dengan doa-doa yang kita panjatkan hari ini,” kata Dicky, Minggu (13/9/2026).
Lima jurnalis tersebut diketahui sedang menjalankan tugas peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Dalam perjalanan tersebut, mereka bersama tiga awak kapal kemudian dilaporkan hilang.
Menurut Dicky, peristiwa tersebut tidak dapat dilepaskan dari karakteristik kerja jurnalis visual yang dituntut menghadirkan gambar langsung dari lokasi peristiwa. Foto dan video menjadi bagian penting dalam memperkuat pemberitaan, terutama ketika meliput kejadian seperti erupsi gunung api.
“Ada perbedaan yang sangat signifikan terhadap wartawan visual, baik foto maupun video dengan wartawan teks. Dalam logika visual, jika beritanya erupsi Gunung Anak Krakatau, logika visualnya harus dapat minimal gunungnya atau visual erupsinya, rupanya itulah yang menjadi motivasi kelima teman kita,” ujarnya.
Dicky menilai kejadian tersebut juga menjadi pengingat penting bagi perusahaan media dan organisasi profesi agar lebih memperhatikan keselamatan jurnalis ketika bertugas di wilayah rawan bencana.
Ia mendorong perusahaan media dan organisasi profesi untuk secara rutin memberikan pelatihan keselamatan, termasuk memperkuat pemahaman mengenai mitigasi bencana bagi para jurnalis yang bekerja di lapangan.
Pelatihan tersebut dinilai penting agar jurnalis tetap dapat menjalankan tugas jurnalistik secara profesional tanpa mengabaikan faktor keselamatan, terutama ketika meliput bencana alam atau aktivitas vulkanik yang memiliki risiko tinggi.
Sumber: Liputan6

