Tidak Semua Orang Akan Menyukaimu, dan Itu Tidak Mengurangi Nilaimu
RBN || Jakarta
Seorang pembuat konten pernah bercerita bahwa satu komentar bernada sinis dari orang asing bisa membuatnya memikirkan ulang seluruh unggahannya selama berjam-jam, padahal ratusan komentar lain yang mendukung tidak pernah mendapat perhatian sebesar itu. Ia bahkan sampai mengubah gaya bicaranya di video-video berikutnya, hanya demi menghindari komentar serupa dari orang yang bahkan tidak dikenalnya sama sekali.
Situasi ini bukan hal yang aneh. Keinginan untuk diterima memang bagian dari cara kerja manusia. Psikolog Mark Leary dari Duke University menjelaskan bahwa rasa diterima secara sosial punya pengaruh besar terhadap cara seseorang berpikir, merasa, dan bertindak, karena secara evolusioner manusia bergantung pada kelompoknya untuk bertahan hidup. Karena itu, wajar jika penolakan atau ketidaksukaan orang lain terasa tidak nyaman. Yang menjadi masalah bukan rasa tidak nyaman itu sendiri, melainkan ketika seseorang membiarkan penilaian orang lain menjadi penentu tunggal nilai dirinya.
Pola ini sering muncul secara halus. Seseorang mulai menahan pendapatnya dalam diskusi keluarga agar tidak dianggap keras kepala. Ia mengubah gaya berpakaian karena komentar seorang kerabat, meski sebenarnya nyaman dengan pilihannya sendiri. Ia menerima ajakan yang sebenarnya tidak diinginkan hanya supaya tidak dicap sombong. Satu per satu penyesuaian kecil ini tampak sepele, tetapi jika terus berulang, lama-lama seseorang bisa kehilangan gambaran tentang siapa dirinya yang sesungguhnya di luar penilaian orang lain.
Di sinilah pentingnya membedakan dua hal yang sering tertukar: kritik yang layak didengar dan penilaian yang sekadar mencerminkan selera atau ketidakcocokan pribadi. Seorang karyawan baru, misalnya, bisa saja bekerja dengan baik dan bersikap sopan, tetapi tetap tidak pernah benar-benar akrab dengan satu rekan kerja tertentu. Bukan karena ada yang salah dengan caranya bekerja, melainkan sekadar karena gaya komunikasi keduanya tidak pernah benar-benar cocok. Dua orang yang sama-sama baik tidak selalu harus menjadi dekat.
Kematangan emosional terlihat dari kemampuan memilah kritik semacam ini. Ketika masukan datang dengan alasan yang jelas dan berdasar, ada baiknya didengarkan dan dijadikan bahan perbaikan. Namun setelah bagian yang memang menjadi tanggung jawab kita diperbaiki, tidak ada kewajiban untuk terus berusaha meyakinkan setiap orang agar berubah pikiran tentang kita.
Ketidaksukaan seseorang terhadap kita juga tidak selalu berasal dari rasa iri atau ancaman, seperti yang sering diasumsikan. Bisa jadi penyebabnya adalah perbedaan nilai hidup, cara berkomunikasi yang berbeda, pengalaman masa lalu yang membentuk cara pandangnya, atau sekadar kesalahpahaman yang tidak pernah sempat diluruskan. Menganggap semua orang yang tidak menyukai kita sebagai pribadi yang bermasalah hanya akan menjebak kita dalam pola pikir yang sama sempitnya dengan penilaian yang kita terima.
Bayangkan bila setiap keputusan harus menunggu persetujuan semua pihak. Hari ini seseorang mengubah gaya bicaranya karena takut dikritik. Besok ia menyembunyikan pendapatnya karena takut ditolak. Lusa ia melewatkan kesempatan berharga karena khawatir ada pihak yang tidak senang. Perlahan, arah hidupnya lebih banyak ditentukan oleh bayangan reaksi orang lain dibanding oleh nilai yang benar-benar diyakininya sendiri.
Pertanyaan yang lebih berguna ketika mengetahui ada orang yang tidak menyukai kita bukanlah siapa mereka dan mengapa mereka bersikap seperti itu, melainkan apakah ada sesuatu dalam diri kita yang memang perlu diperbaiki. Jika ada, perbaiki dengan rendah hati. Jika tidak ditemukan alasan yang masuk akal, tidak perlu menjadikan ketidaksukaan itu sebagai proyek yang harus diselesaikan.
Memang ada situasi ketika penjelasan tetap diperlukan, terutama saat kesalahpahaman berpotensi merusak reputasi, pekerjaan, atau hubungan yang penting. Namun ada pula saat-saat ketika pembelaan yang terus-menerus justru memperpanjang masalah alih-alih menyelesaikannya. Tidak setiap orang harus diyakinkan tentang siapa kita sebenarnya, dan itu bukan kekalahan.
Energi yang biasanya habis untuk memikirkan pandangan orang yang tidak menyukai kita bisa dialihkan untuk hal-hal yang jauh lebih berarti: memperbaiki kualitas kerja, merawat hubungan yang memang sehat, atau mengembangkan kemampuan baru. Kebebasan emosional mulai tumbuh saat seseorang mampu berkata pada dirinya sendiri bahwa ia bersedia mendengarkan kritik, tetapi tidak akan menyerahkan harga dirinya kepada opini setiap orang yang ditemuinya.
Seseorang tetap bisa menjadi pribadi yang baik meski tidak disukai sebagian orang. Ia bisa bekerja sungguh-sungguh dan tetap dikritik, bersikap tulus dan tetap disalahpahami, bahkan melakukan hal yang benar namun tetap membuat sebagian orang merasa tidak nyaman. Tidak ada jaminan bahwa kebaikan akan selalu mendapat persetujuan semua orang, dan itu bukan kekurangan pada diri kita.
Ketenangan tidak lahir dari kesepakatan semua orang tentang siapa kita. Ketenangan tumbuh dari kerendahan hati untuk memperbaiki yang memang keliru, kebijaksanaan untuk menerima perbedaan yang wajar, dan keteguhan untuk terus melangkah tanpa menjadikan ketidaksukaan orang lain sebagai pusat kehidupan.

