BIONS 322: Wida Ungkap Cara Menjadi MC Profesional dan Percaya Diri
RBN || Jakarta
Menjadi master of ceremony (MC) bukan sekadar kemampuan berbicara di depan banyak orang. Dibutuhkan kepercayaan diri, kemampuan membaca situasi, hingga kecakapan mengatur jalannya acara agar tetap berjalan sesuai rencana.
Hal tersebut disampaikan Wida dalam Bincang Online Inspiratif (BIONS) Seri 322, Sabtu (5/9/2026). Ia membagikan perjalanan dirinya hingga akhirnya menekuni dunia MC.
Menariknya, Wida mengaku bukan sosok yang sejak kecil mudah bergaul. Saat masih duduk di bangku SD hingga SMP, ia merasa cukup kesulitan dalam bersosialisasi.
Perubahan mulai terjadi ketika duduk di kelas 3 SMP. Saat itu, seorang guru memberinya kepercayaan untuk menyampaikan materi sosialisasi kepada anak-anak SD. Kesempatan tersebut menjadi salah satu pengalaman penting yang mendorongnya lebih berani berbicara di depan orang lain.
Memasuki jenjang SMA, Wida semakin aktif mengikuti OSIS dan berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Beragam aktivitas tersebut secara perlahan membantunya mengasah kemampuan komunikasi dan berbicara di depan umum.
Ketika kuliah, ia kembali memperluas pengalaman dengan bergabung dalam organisasi. Dari sana, Wida belajar tampil di hadapan banyak orang hingga akhirnya dipercaya menjadi MC.
Ia kemudian terus mengembangkan kemampuannya dengan belajar bersama komunitas.
Menurut Wida, kepercayaan yang diberikan orang lain harus dijawab dengan tanggung jawab dan usaha terbaik.
“Kepercayaan yang diberikan kepada saya adalah tanggung jawab yang harus saya bayar sehingga saya berusaha untuk memberikan penampilan yang maksimal,” ujar Wida.
Wida menjelaskan, kemampuan public speaking memang menjadi salah satu modal penting seorang MC. Namun, keterampilan tersebut bukan satu-satunya hal yang harus dikuasai.
Seorang MC juga dituntut mampu memahami rundown dan mengatur alur acara. Ia harus mengetahui apa yang perlu dilakukan pada setiap tahapan agar acara tetap berjalan dengan baik.
“Kemampuan seorang MC adalah memahami apa yang perlu dilakukan ketika acara berlangsung. Seorang MC tidak hanya berbicara, mengendalikan acara dan menjadi wajah dari acara tersebut,” ujar Wida.
Karena itu, seorang MC perlu memiliki kemampuan beradaptasi dengan kondisi yang terjadi selama acara. Tidak semua situasi dapat berjalan persis seperti yang tertulis dalam rundown, sehingga MC harus mampu mengambil keputusan dan menjaga suasana tetap terkendali.
Selain kemampuan mengelola acara, Wida menekankan pentingnya teknik vokal bagi seorang MC. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan antara lain artikulasi, intonasi, tempo, serta cara membawa suara sesuai dengan karakter acara.
Artikulasi yang jelas membantu pesan tersampaikan dengan baik. Sementara itu, intonasi dan tempo perlu disesuaikan agar penyampaian tidak terdengar monoton.
Pembawaan juga harus menyesuaikan jenis acara. Seorang MC perlu mengetahui kapan harus tampil formal, santai, energik, maupun lebih tenang.
Wida juga membagikan pentingnya menemukan persona dalam membangun karier sebagai MC. Menurutnya, langkah pertama adalah mengenali diri sendiri.
Pemahaman terhadap karakter diri kemudian dapat dikembangkan menjadi identitas yang membedakan seorang MC dari yang lainnya.
Persona tersebut dapat menjadi unique selling point sekaligus bagian dari personal branding yang diperhatikan oleh klien ketika memilih MC.
Salah satu hal yang menurut Wida dapat menjadi daya tarik adalah smiling voice, yakni karakter suara yang terdengar ramah, hangat, dan seolah membawa senyuman ketika berbicara.
Dengan kemampuan komunikasi yang terus diasah, penguasaan teknik vokal, serta persona yang kuat, seorang MC tidak hanya dituntut mampu berbicara, tetapi juga menghadirkan pengalaman yang berkesan bagi audiens dan memastikan sebuah acara berjalan dengan baik.

