Tidak Semua Perasaan Harus Menjadi Kata-Kata
RBN || Jakarta
Kita hidup di zaman ketika perasaan seolah-olah harus selalu diumumkan. Marah harus dibalas. Kecewa harus dijelaskan. Tersinggung harus diklarifikasi. Ketika seseorang membuat kita tidak nyaman, tangan terasa gatal untuk segera mengetik sesuatu, seolah-olah ketenangan baru bisa diperoleh setelah orang lain mengetahui betapa sakitnya perasaan kita.
Padahal, tidak semua yang terasa perlu segera dikatakan. Ada perasaan yang memang membutuhkan suara. Tetapi ada pula perasaan yang justru membutuhkan waktu. Persoalannya, kita sering mencampuradukkan keduanya. Seseorang mendapat kritik dari atasannya. Ia pulang dengan perasaan tersinggung, lalu menceritakan kejadian itu kepada banyak orang. Semakin banyak diceritakan, semakin kuat keyakinannya bahwa dirinya diperlakukan tidak adil. Padahal, mungkin kritik itu memang keras, tetapi tidak seluruhnya salah. Di sinilah emosi dapat membuat persoalan terlihat lebih hitam-putih daripada kenyataannya.
Perasaan kita valid, tetapi perasaan bukan selalu fakta. Marah tidak otomatis berarti orang lain bersalah. Kecewa tidak otomatis berarti seseorang telah menyakiti kita dengan sengaja. Merasa diabaikan juga tidak selalu berarti kita memang sedang diabaikan. Kita sering bereaksi bukan terhadap apa yang terjadi, melainkan terhadap makna yang langsung kita tempelkan pada kejadian itu. Karena itu, kemampuan menahan kata bukan berarti menekan emosi. Justru sebaliknya, itu adalah bentuk pengelolaan emosi.
James J. Gross, profesor psikologi Stanford University, menjelaskan bahwa regulasi emosi berkaitan dengan bagaimana seseorang memengaruhi pengalaman dan ekspresi emosinya. Salah satu pendekatan yang dikemukakannya adalah cognitive reappraisal, yaitu menilai kembali sebuah situasi sebelum menentukan respons terhadapnya.
Jeda menjadi penting karena emosi membutuhkan ruang. Ketika hati sedang panas, kalimat yang paling mudah keluar biasanya bukan kalimat yang paling bijaksana. Kita ingin membuat orang lain memahami luka kita, tetapi tanpa sadar memilih kata-kata yang membuat mereka bertahan dan menyerang balik. Satu kalimat bisa berubah menjadi sepuluh pesan. Sepuluh pesan berubah menjadi pertengkaran. Dan pertengkaran sering meninggalkan sesuatu yang jauh lebih sulit diperbaiki daripada persoalan awal hubungan.
Karena itu, sebelum mengirim pesan panjang ketika sedang marah, mungkin ada baiknya bertanya,
Apakah saya ingin menyelesaikan masalah atau sekadar melampiaskan perasaan?
Apakah saya sedang mencari kejelasan atau mencari pembenaran?
Jika kalimat ini dikirim sekarang, apakah keadaan akan membaik atau justru semakin keruh?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan ajakan untuk menjadi pribadi yang pasif. Kita tetap perlu berbicara ketika batas diri dilanggar, ketika perlakuan buruk terus berulang, atau ketika sebuah hubungan membutuhkan kejujuran. Tetapi berbicara dengan sadar berbeda dengan berbicara karena dikuasai emosi.
Ada perbedaan antara mengatakan, “Saya tidak nyaman diperlakukan seperti itu,” dengan melontarkan sepuluh kalimat untuk membuat orang lain merasa bersalah. Yang pertama menetapkan batas. Yang kedua bisa menjadi pelampiasan.
Begitu pula dengan diam. Diam tidak selalu berarti dewasa. Ada orang yang diam karena mampu mengendalikan diri, tetapi ada pula yang diam karena takut menghadapi konflik. Ada yang memilih tidak menjawab karena persoalannya tidak penting, tetapi ada pula yang menghindar karena tidak berani mengatakan apa yang sebenarnya dirasakan.
Jadi, persoalannya bukan memilih diam atau berbicara. Yang lebih penting adalah mengetahui mengapa kita memilihnya. Kematangan emosional muncul ketika seseorang tidak lagi merasa wajib menjelaskan dirinya kepada semua orang. Ia mulai memahami bahwa tidak semua opini perlu diluruskan, tidak semua kesalahpahaman harus dikejar, dan tidak semua orang harus diyakinkan. Sebab ada orang yang ingin memahami kita. Ada pula yang hanya menunggu kita berbicara lebih banyak agar mereka memiliki bahan untuk menyerang.
Dalam situasi seperti itu, penjelasan yang semakin panjang tidak selalu membuat kita semakin dimengerti. Kadang, melepaskan kebutuhan untuk dipahami adalah bentuk penghormatan kepada diri sendiri. Kita tidak bisa mengatur apa yang orang lain pikirkan tentang kita. Kita juga tidak bisa memaksa semua orang melihat niat baik yang ada di balik tindakan kita.Yang bisa kita pilih adalah apakah setiap penilaian harus kita masukkan ke dalam hati dan setiap provokasi harus kita jawab.
Ada perasaan yang cukup dikenali. Ada yang perlu dipahami. Ada yang perlu disampaikan. Dan ada yang sebaiknya dibiarkan lewat tanpa diberi panggung. Dewasa bukan berarti kehilangan keberanian untuk bicara. Dewasa berarti tidak lagi menggunakan kata-kata sebagai tempat membuang semua emosi. Sebab tidak semua perasaan harus menjadi kata-kata. Sebagian cukup menjadi kesadaran bahwa kita pernah terluka, pernah marah, pernah kecewa dan tetap memilih untuk tidak membiarkan semua itu menentukan cara kita memperlakukan orang lain. Ada ketenangan yang tidak lahir karena persoalan selesai, melainkan karena kita berhenti merasa harus mengatakan semuanya.
